Minggu, 07 November 2010

ULTRASOUND THERAPY

Fisioterapi memiliki tanggung jawab di dalam kesehatan gerak fungsional sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan. Dalam pelaksanaan di pergunakan berbagai metodologi intervensi fisioterapi, termasuk penggunaan stesor-stesor fisis didalam rangkaian modalitas fisioterapi. Modalitas fisioterapi memiliki berbagai macam atau jenis, yang salah satunya ialah ultra sonik.
Gelombang ultra sonik yang merupakan gelombang suara yang di peroleh dari getaran yang memiliki frekwensi 0,1 hingga 5 MHz. Gelombang ini dapat di kelompokkan menurut fungsinya dengan frekwensi dan intensitas masing-masing (Lehmaun 1990)

Untuk diagnostik frekwensi intensitas

echocardiography 5 M Hz 3,4 mW/cm²
echophalography 5 M Hz 3,4 mW/cm²
doppler blood flow 5 s.d 10 M Hz 203 m/W/cm²
obstretical doopler 2,25 M Hz 6,3 m/W/cm²
untuk surgical / bedah
gallostone ablation 0,01 M Hz 20 s.d 100 W/cm²
untuk terapetik
physical medicine & rehabilitation 0,75 s.d 3 M Hz 0.1 s.d 5 W/cm²

a. Generator Ultra Sonik
Pesawat ultra sonik merupakan suatu generator yang menghasilkan arus bolak balik berfrekwensi tinggi (high frequency alternating current) yang mencapai 0,75 s.d 3 MHz. Arus ini berjalan menembus kabel koaksial pada transducer yang kemudian di konversikan menjadi vibrasi oleh adanya efek piezoelektrik.

Efek piezoelektrik ini pertama kali diperkenalkan oleh Pierre dan Jacques Curie (1880), yang di peroleh dari vibrasi kristal quartz atau dari produk sintetis kristal keramik berupa barium titanate maupun lead zirconate titanate.

Kristal ini dibentuk dengan ketebalan 2-3 mm melingkar sesuai dengan axis elektrik, kemudian dieratkan pada bagian dalam permukaan tranducer. Saat di aliri arus atau beda potensial, kristal ini akan mengalami vibrasi baik secara kompresi maupun ekspansi dengan frekwensi sama dengan sinyal elektrik yang datang. Umumnya frekwensi yang di hasilkan oleh generator adalah 1 dan 3 MHz.

b. Penyebaran efek ultra sonik dalam jaringan
Efek penyebaran ultra sonik dalam jaringan bergantung pada:
1) Kedalaman penetrasi
Kedalaman penetrasi tergantung pada absorpsi dan penyebaran pancaran ultra sonik selama dalam jaringan.
2). Absorpsi (absorpation)
Merupakan penerimaan panas yang di konversikan dari energi akustik
oleh adanya penyebaran ultra sonik dalam jaringan. Menurut Michloyitz, 1990 absopsi ultra sonik berkaitan dengan kandungan protein dalam jaringan.

Tissue type Attenuation Protein content
bone 96% per cm 20-25%
cartilago 68% per cm
tendon 59% per cm
skin 39% per cm
blood vessel 32% per cm 15-20%
muscle 24% per cm 10-15%
fat 13% per cm
blood 3% per cm

Beberapa jaringan yang dapat di berikan ultra sonik :
Superficial bone
peripheal nerves
Scar tissue
Joint capsules
myofacial interface
Tendon
cells membranes

Ultra sonik frekwensi tinggi (3 MHz) akan lebih mudah di absorpsi dari pada yang berfrekwensi rendah (1 MHz), (wadsworth, chanmugam, 1988)
3). Penyebaran (scattering)
Merupakan penyebaran secara refleksi maupun refraksi ultra sonik dari permukaan tak beraturan atau inhomogenitas kedalam jaringan.

c. Frekwensi
Frekwensi ultra sonik merupakan jumlah iscilasi gelombang suara yang dicapai dalam waktu satu detik yang dinyatakan dengan megahertz (MHz). Umumnya frekwensi yang di pergunakan dalam terapi ultra sonik adalah 1 dan 3 MHz

d. Intensitas
Merupakan rata-rata energi yang dipancarkan tiap unit area, dan dinyatakan dalam watt per sentimeter persegi (W/cm²). sedangkan power ialah total output dari tranducer yang dinyatakan dalam watt (W).

Total power output (watts)
Intensitas = _________________________
ERA pada transducer (cm²)

Umumnya intensitas untuk terapi ultra sonik ini berkisar antara 0 s.d 5 W/cm². namun yang sering di pergunakan dalam klinik berkisar antara 0,5 s.d 2 W/cm². agar diperhatikan bahwa pemberian ultra sonik dengan intensitas tinggi dapat mengakibatkan terjadinya unstable cavitation ataupun mikrotrauma jaringan.


e. Efek fisiologik dari ultra sonik termal dan implikasi klinisnya
Efek fisiologi
•Meningkatkan extensibilitas colagen dari tendon, kapsul sendi dan scar tissue
•Meningkatkan konduksi syaraf motor maupun sensor dengan meningkatkan ambang rangsang rasa nyeri
•Mempengaruhi aktivitas kontraktil otot rangka, mengurangi aktivitas muscle spindle, mengurangi spasme otot yang secara sekunder menyebabkan nyeri
•Meningkatkan aliran darah

f. Efek fisiologik US non thermal ultrasonik
Efek non thermal ultrasonik terjadi dari gelombang suara berpulsa. Efek ini akan meningkat sejalan dengan peningkatan frekwensi (M Hz) dan intensitasnya.
Umumnya pulsa gelombang ini memiliki rasio 1 : 4 (20%), 1 : 1 (50%), 1 : 9 (10%). Sehingga pemberian ultra sonik berpulsa selama 5 menit dengan rasio 1 : 4 berarti bahwa pasien akan menerima gelombang ultra sonik selama 1¼. efek non thermal ultra sonik di hasilkan oleh vibrasi mekanik menghasilkan :
1) acoustic streming, yakni arus tak langsung yang terjadi pada membran sel
2) cavitation, ada dua macam (a) stable cavitation (b) unstable atau trensient cavitation
3) micromassage, merupakan gerakan oscilator dari sel dan jaringan.
Sehingga efek non termal ultra sonik dapat mengurangi oedem, nyeri dan spasme otot, memperbaiki aliran darah serta menginduksi perbaikan non union bone, regenerasi jaringan dan perbaikan jaringan lunak.

g. Efek fisiologik dari ultra sonik non termal dan implikasi klinisnya :
- menstimulasi pelepasan histamin dari sel mast oleh adanya degranulasi
- stimulasi pelepasan serotonin dari sel darah
- stimulasi pelepasan chemotactic agents dan growth factor dari makrofag
- stimulasi pembentukan kapiler darah baru oleh sel-sel endotel
- stimulasi fibroblast untuk meningkatkan sintetis protein
- meningkatkan kandungan kolagen
- Meningkatkan velositas konduksi saraf motor dan sensor yang akan meningkatkan ambang nyeri

h. Implikasi klinik
- mempercepat penyembuhan luka dengan percepatan fase awal peradangan
- mempercepat penyembuhan luka dengan percepatan fase akhir peradangan
- mempercepat penyusutan luka akibat kurangnya pembentukan scar tissue
- mempercepat penyembuhan luka dengan perbaikan sirkulasi yang memerlukan sintetis colagen
- mempercepat penyembuhan dengan memproduk kolagen yang hilang
- meningkatkan daya lentur jaringan
- mengurangi nyeri

i. Indikasi
1) Kondisi peradangan sub akut dan khronik
2) Kondisi traumatik sub akut dan khronik
3) Adanya jaringan parut atau scar tissue pada kulit sehabis luka operasi atau luka bakar
4) Kondisi ketegangan, pemendekan dan perlengketan jaringan lunak (otot, tendon dan ligamentum )
5) Kondisi inflamasi khronik

j. Kontra indikasi
Merupakan kontra indikasi terhadap terapi ultra sonik antara lain :
1) penyakit jantung atau penderita dengan alat pacu jantung
2) kehamilan, khususnya pada daerah uterus
3) jaringan lembut : mata, testis, ovarium, otak
4) jaringan yang baru sembuh atau jaringan granulasi baru
5) pasien dengan gangguan sensasi
6) tanda-tanda keganasan atau tumor malignan
7) insufisiensi sirkulasi darah : thrombosis, thromboplebitis atau occlisive occular disease/infeksi akut.
9) daerah epiphysis untuk anak-anak dan dewasa

Tips Menjaga Tulang Belakang

Salah satu bagian tubuh yang sering kali diabaikan kesehatannya adalah tulang punggung. Padahal, di bagian inilah terdapat segala pusat saraf yang menghubungkan bagian-bagian tubuh dengan otak. Sadarkah Anda bahwa setiap kegiatan dan aktivitas yang salah bisa menyakiti tulang belakang kita? Melakukan aktivitas untuk menjaga tulang belakang tetap bagus tak hanya berguna untuk kebaikan dan kesehatan, tetapi juga untuk menjaga postur tubuh tegak dan sehat. Berikut adalah tips untuk menjaga postur untuk menjaga tulang belakang Anda :

1. Ketika akan mengangkat barang atau bayi dari lantai, tekuk lutut Anda, jangan membungkuk. Ketika Anda membungkuk dan mengangkat barang berat dari lantai, hal ini bisa menyakiti dan membebani tulang punggung dengan beban terberat. Salah-salah, malah bisa terjadi kram atau dislokasi. Ketika akan mengangkat barang berat dari lantai, usahakan untuk menjaga tulang belakang tetap lurus. Tekuk kaki Anda untuk menyejajarkan diri dengan barang tersebut. Angkat barang tersebut dekat dengan tubuh, lalu perlahan berdiri kembali.

2. Begitu pula ketika Anda akan menaruh barang berat ke tempat yang tingginya diatas kepala Anda, usahakan jangan mengangkat barang tersebut lebih tinggi dari pundak anda. Jika Anda akan menyimpan barang berat di tempat yang tinggi, gunakan tangga atau kursi. Mengangkat beban berat di atas batas pundak Anda bisa menyebabkan tulang belakang mendapat tekanan yang sangat besar.

3. Ganti posisi sesering mungkin jika Anda harus berdiri dalam waktu lama. Misalnya saat Anda berdiri sambil menyetrika baju, gunakan dingklik atau kursi kecil untuk menaruh kaki Anda bergantian. Ini perlu untuk menyeimbangkan dan mengganti tumpuan berat badan. Berdiri tegak, jangan membungkuk dengan kepala tegak.



4. Berjalan dengan tegak, dengan kepala menatap ke depan dan punggung lurus. Berjalanlah dengan postur tegak, pandangan ke depan, dan ujung-ujung kaki menunjuk lurus ke depan. Gunakan sepatu yang nyaman dan berhak tipis. Hindari berdiri dengan posisi yang sama dalam waktu lama. Jangan berjalan membungkuk, hindari menggunakan sepatu berhak tinggi dalam waktu lama.

5. Ketika di dalam mobil, duduklah tegak, majukan tempat duduk pengendara agar kaki Anda lebih dekat dengan pedal. Usahakan kedua lutut Anda sejajar dengan pinggul. Sokong punggung bagian bawah dengan handuk gulung atau penyokong tulang belakang khusus. Jangan duduk terlalu jauh dari setir. Perhatikan kaki Anda ketika menginjak pedal. Jika terlalu jauh, dekatkan, karena ketika otot kaki tiba-tiba meregang tanpa pemanasan bisa menyebabkan kram dan tekanan di tulang punggung.

6. Saat duduk di depan komputer atau di depan televisi yang biasanya akan berlangsung lama, pastikan paha Anda sejajar dengan lantai, jangan sampai kaki menekuk terlalu tinggi (berarti lutut Anda lebih tinggi dari paha) atau kaki Anda menggantung jauh dari lantai. Biarkan kedua telapak kaki Anda rata di lantai dan punggung Anda mendapatkan dukungan dari belakang kursi. Untuk lebih amannya, berikan gulungan handuk dibagian punggung bawah. Pastikan pandangan Anda lurus ke depan, tidak menunduk atau melihat ke atas. Posisi yang tak nyaman dalam waktu lama bisa menyebabkan kram otot.

7. Saat tidur, manusia memang memiliki kebiasaan dan posisi nyamannya masing-masing. Namun, untuk menjaga agar tulang punggung tetap baik, pastikan tempat tidurnya cukup keras dan rata. Ketika tidur dengan posisi menyamping, tekuk sedikit lutut, biarkan kedua lutut tersebut bertumpukan. Jika Anda tidur telentang, berikan bantal kecil dibawah lutut. Hindari tidur telungkup, karena ini bisa menyakiti tulang belakang Anda. Hindari tidur di media yang terlalu lembut, seperti sofa, karena hal ini tidak bisa menyokong tulang punggung.

MUSCLE STRAIN (CIDERA OTOT PUNGGUNG)

Apakah Muscle Strain Itu?
Muscle strain atau Nyeri pungung bawah atau dalam bahasa jawa keseleo dapat terjadi kapan dan dimana saja. Muscle strain berarti ada suatu cedera pada otot, tergantung area mana yang cidera sehingga timbul nyeri pada daerah tersebut. Keseleo pada punggung bawah biasanya terjadi dikarenakan gerakan yang tiba-tiba atau mengangkat suatu benda yang terlalu berat. Dan tipikal dari nyeri ini bisa berlangsung lama sehingga berakibat tegangnya otot-otot punggung dan timbul nyeri punggung bawah, selain itu buruknya postur dan penggunaan otot punggung bawah yang berlebihan menambah parah pada kasus ini. Bila nyeri ini dibiarkan berlangsung lama otot-otot pungung akan menegang sehingga suplai darah ke otot tersebut berkurang dan kelemahan otot punggungpun terjadi. Maka ketika seseorang merasakan nyeri pungung bawah saat menekuk punggungnya (back flexion) untuk mengambil sesuatu benda berarti bukan karena gerakan tersebut yang menimbulkan nyeri tetapi karena ketegangan otot yang berlangsung lama.
Jika anda mengalami tekanan langsung pada otot, terutama sekali pada otot yang dekat dengan tulang maka anda harus waspada kalau itu sebuah contusion (luka memar). Gejalanya adalah nyeri hebat yang tiba-tiba pada punggung, timbul pembengkakan pada area yang mengalami ruptur, nyeri pada semua gerakan (fleksi,ekstensi dan side fleksi)
Kerobekan otot atau muscle tear dikelompokkan menjadi beberapa grade (1,2,3) tergantung seberapa parahnya kerobekan otot.

Grade 1 :
1. Ketegangan otot punggung/ tightness
2. Aktivitas berjalan mampu dilakukan
3. Pembengkakan tidak begitu terlihat

Apa Yang bisa Atlet Lakukan ?
a. Mencari fisioterapi atau dokter yang berkompeten
b. Tetap melakuka aktivitas olahraga yang ringan dan berhentilah berolahraga bila nyeri timbul.

Peran Fisioterapi :
a. Mengapikasikan sport massage untuk mempercepat proses recovery
b. Menggunakan teknik manipulasi
c. Memanfaatkan ultrasound dan electrical stimulasi (TENS)
d. Mendesign latihan rehabilitasi

Grade 2:
1. Pola jalan agak terganggu
2. Adanya nyeri tusuk yang tiba-tiba.
3. Adanya peradangan.
4. Aktivitas mulai terganggu karena nyeri yang timbul

Apa Yang Bisa Anda Lakukan?
a. Istirahat
b. Mencari dokter atau fisioterapi untuk berkonsultasi tentang aktivitas apa saja yang diperbolehkan dan yang dilarang.

Peran Fisioterapi:
1. Mengaplikasikan teknik Sport massage untuk meningkatkan proses recovery
2. Penggunaan ultrasound dan elektrical stimulasi (TENS)

Grade 3:
a. Tidak mampu untuk berjalan dengan benar
b. Adanya nyeri yang menjalar
c. Timbul peradangan dan harus segera diatasi
d. Nyeri hebat saat melakukan kontraksi statik

Apa Yang Bisa Atlet Lakukan:
1. Mencari pengobatan segera
2. Protection,Rest, Ice, Comprese and Elevate (PRICE)
3. Memakai kruk /crutches
4. Mengikuti program rehabilitasi di departemen fisioterapi.

Peran Fisioterapi :
a. Mengaplikasikan sport massage
b. Penggunaan terapi manipulasi
c. Memanfaatkan ultrasound dan elektrikal stimulasi
d. Mendesign program rehabilitasi

PENGUKURAN NYERI

Tipe Pengukuran Nyeri
Ada 3 tipe pengukuran nyeri yaitu :
1. self-report measure,
2. observational measure, dan
3. pengukuran fisiologis.

1.Self-report measure
Pengukuran tersebut seringkali melibatkan penilaian nyeri pada beberapa jenis skala metrik. Seorang peenderita diminta untuk menilai sendiri rasa nyeri yang dirasakan apakan nyeri yang berat (sangat nyeri), kurang nyeri dan nyeri sedang. Menggunakan buku harian merupakan cara lain untuk memperoleh informasi baru tentang nyerinya jika rasa nyerinya terus menerus atau menetap atau kronik. Cara ini sangat membantu untuk mengukur pengaruh nyeri terhadap kehidupan pasien tersebut. Penilaian terhadap intensitas nyeri, kondisi psikis dan emosional atau keadaan affektif nyeri juga dapat dicatat. Self-report dianggap sebagai standar gold untuk pengukuran nyeri karena konsisten terhadap definisi/makna nyeri. Yang termasuk dalam self-report measure adalah skala pengukuran nyeri (misalnya VRS, VAS, dll), pain drawing, McGill Pain Quesioner, Diary, dll).

2.Observational measure (pengukuran secara observasi)
Pengukuran ini adalah metode lain dari pengukuran nyeri. Observational measure biasanya mengandalkan pada seorang terapis untuk mencapai kesempurnaan pengukuran dari berbagai aspek pengalaman nyeri dan biasanya berkaitan dengan tingkah laku penderita. Pengukuran ini relatif mahal karena membutuhkan waktu observasi yang lama. Pengukuran ini mungkin kurang sensitif terhadap komponen subyektif dan affektif dari nyeri. Yang termasuk dalam observational measure adalah pengukuran tingkah laku, fungsi, ROM, dan lain-lain.

3.Pengukuran fisiologis
Perubahan biologis dapat digunakan sebagai pengukuran tidak langsung pada nyeri akut, tetapi respon biologis pada nyeri akut dapat distabilkan dalam beberapa waktu karena tubuh dapat berusaha memulihkan homeostatisnya. Sebagai contoh, pernapasan atau denyut nadi mungkin menunjukkan beberapa perubahan yang kecil pada awal migrain jika terjadi serangan yang tiba-tiba dan keras, tetapi beberapa waktu kemudian perubahan tersebut akan kembali sebelum migrain tersebut menetap sekalipun migrainnya berlangsung lama. Pengukuran fisiologis berguna dalam keadaan dimana pengukuran secara observasi lebih sulit dilakukan. Yang termasuk dalam pengukuran fisiologis adalah pemeriksaan denyut nadi, pernapasan, dll.

Jenis-jenis Pengukuran Nyeri
Pengukuran nyeri terdiri dari pengukuran komponen sensorik (intensitas nyeri) dan pengukuran komponen afektif (toleransi nyeri).

Pengukuran komponen sensorik
Ada 3 metode yang umumnya digunakan untuk memeriksa intensitas nyeri yaitu Verbal Rating Scale (VRS), Visual Analogue Scala (VAS), dan Numerical Rating Scale (NRS).
VRS adalah alat ukur yang menggunakan kata sifat untuk menggambarkan level intensitas nyeri yang berbeda, range dari “no pain” sampai “nyeri hebat” (extreme pain). VRS merupakan alat pemeriksaan yang efektif untuk memeriksa intensitas nyeri. VRS biasanya diskore dengan memberikan angka pada setiap kata sifat sesuai dengan tingkat intensitas nyerinya. Sebagai contoh, dengan menggunakan skala 5-point yaitu none (tidak ada nyeri) dengan skore “0”, mild (kurang nyeri) dengan skore “1”, moderate (nyeri yang sedang) dengan skore “2”, severe (nyeri keras) dengan skor “3”, very severe (nyeri yang sangat keras) dengan skore “4”. Angka tersebut berkaitan dengan kata sifat dalam VRS, kemudian digunakan untuk memberikan skore untuk intensitas nyeri pasien. VRS ini mempunyai keterbatasan didalam mengaplikasikannya. Beberapa keterbatasan VRS adalah adanya ketidakmampuan pasien untuk menghubungkan kata sifat yang cocok untuk level intensitas nyerinya, dan ketidakmampuan pasien yang buta huruf untuk memahami kata sifat yang digunakan
Numeral Rating Scale adalah suatu alat ukur yang meminta pasien untuk menilai rasa nyerinya sesuai dengan level intensitas nyerinya pada skala numeral dari 0 – 10 atau 0 – 100. Angka 0 berarti “no pain” dan 10 atau 100 berarti “severe pain” (nyeri hebat). Dengan skala NRS-101 dan skala NRS-11 point, dokter/terapis dapat memperoleh data basic yang berarti dan kemudian digunakan skala tersebut pada setiap pengobatan berikutnya untuk memonitor apakah terjadi kemajuan.
VAS adalah alat ukur lainnya yang digunakan untuk memeriksa intensitas nyeri dan secara khusus meliputi 10-15 cm garis, dengan setiap ujungnya ditandai dengan level intensitas nyeri (ujung kiri diberi tanda “no pain” dan ujung kanan diberi tanda “bad pain” (nyeri hebat). Pasien diminta untuk menandai disepanjang garis tersebut sesuai dengan level intensitas nyeri yang dirasakan pasien. Kemudian jaraknya diukur dari batas kiri sampai pada tanda yang diberi oleh pasien (ukuran mm), dan itulah skorenya yang menunjukkan level intensitas nyeri. Kemudian skore tersebut dicatat untuk melihat kemajuan pengobatan/terapi selanjutnya. Secara potensial, VAS lebih sensitif terhadap intensitas nyeri daripada pengukuran lainnya seperti VRS skala 5-point karena responnya yang lebih terbatas. Begitu pula, VAS lebih sensitif terhadap perubahan pada nyeri kronik daripada nyeri akut (Carlson, 1983 ; McGuire, 1984). Ada beberapa keterbatasan dari VAS yaitu pada beberapa pasien khususnya orang tua akan mengalami kesulitan merespon grafik VAS daripada skala verbal nyeri (VRS) (Jensen et.al, 1986; Kremer et.al, 1981). Beberapa pasien mungkin sulit untuk menilai nyerinya pada VAS karena sangat sulit dipahami skala VAS sehingga supervisi yang teliti dari dokter/terapis dapat meminimalkan kesempatan error (Jensen et.al, 1986). Dengan demikian, jika memilih VAS sebagai alat ukur maka penjelasan yang akurat terhadap pasien dan perhatian yang serius terhadap skore VAS adalah hal yang vital (Jensen & Karoly, 1992).

ALS (Amiotrophic Lateral Sclerosis)

Sekilas Tentang FT pada ALS

• Penyakit yang tidak diketahui secara pasti penyebabnya
• Terjadi proses degenerasi progressif upper dan Lower motor neurons
• Menjadi berbahaya karena menyerang otot-otot pernafasan
• Proses degenerasi dimulai di tract corticospinal dan menyebar kebawah ke Anterior horn dan akar saraf
• Dimulai sebegai gangguan upper motor neuron lesi dan berakhis dengan lower motor neuron lesi
• Gangguan kadang menyebar pada focal dan asimetris
• Progresif bulbar palsy
• AHC terpengaruh spinal muscular atrophy
• Saat UMN lesi juga melibatkan otot bulbar palsy, sindrom pseudobulbar palsy
• Menyebabkan spastik dysarthria dan dysphagia
• Gejala UMN :spatik anggota badan (primary lateral sclerosis)menyebar ke area motorik lainnya.
• Gabungan gejala UMN dan LMN dikenal sebagai ALS.
• Dimulai dengan spastik paralisis di jari-jari dan tangan dan menyebar ke atas langan.
• Pada upper extremity terlihat seperti hemi plegi
• Secara bersamaan anggota tubuh atrophy secara lambat dimana terjadi degenerasi AHC
• Reflex meningkat saat pertama tetapi secara bertahap menurun.
• Perubahan gejala spastic menghilang dan berganti menjadi flaccid.
• Setelah kaki terserang gejala pertama spastis muncul dan ketika degenerasi menyebar ke anterior horn cell.
• Terjadi perluasan atrophy dan paralisis lumbal
• Reflex dikaki sama seperti ditangan pada awal meningkat
• Ankle clonus dan babinski sign ada tapi akhirnya menghilang
• Motor nuclei medulla dapat terpengaruh.
• Kemungkinan penderita mengalami kesulitan menelan
• Peningkatan saliva
• Dysarthria dapat terjadi bicara menjadi tidak jelas
• Drop hand
• Drop foot
• Kram otot sering terjadi keterlibatan LMN
• Terjadi clonus atau extensor spasm nyeri


Pemeriksaan
• Anamnesis
– Identitas diri pasien
– Keluhan utama
– Hobby dan kebiasaan
– Riwayat penyakit sebelumnya
– Riwayat penyakit penyerta
– Riwayat perjalanan penyakit

• Pemeriksaan Vital Sign
– HR, RR,BP, Temp.

• Inspeksi (Statis dan dinamis)
– Aspek anterior yang perlu diperhatikan :
• Kesimetrisan kepala, badan dan anggota gerak
• Atrophy pada anggota gerak
• Gejala Spastik/flaccid
• Posisi anggota herak terhadap trunk
• Trunk dan posture
• Pergerakan pola nafas dan mobilitas thorax
• Palpasi
– Tonus pada setiap otot
– Suhu
– Kondisi kulit
• Fase spastik
– Ashwort test
– Tes koordinasi
– Respiratory test
• VC
• APE 1 detik
– Thorax mobility
• Fase flaccid
– MMT
– Thorax mobility

Prinsip penanganan
• Disesuaikan dengan fase kelemahan
– Sifat intervensi adalah pemeliharaan kondisi umum
– Perbaikan sistem pernafasan
– Fase spastik
• Koordinasi
• Latihan passive :fleksibility
• Pemeliharaan kebugaran
– Fase flaccid
• Strengthening
• Koordinasi
• Stimulasi electric
• Fungsional
• Stability
– Untuk semua intervensi dosis disesuaikan

BREATHING EXERCISE

Pasien penyakit paru akut dan kronik perlu diajarkan untuk mengontrol aktifitas pernafasannya untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi kerja respirasi.
1.Breathing exercise didesain untuk memperbaiki fungsi otot-otot respirasi, meningkatkan ventilasi dan oksigenisasi.
2.Exercise aktive ROM pada shoulder dan trunk akan membantu ekspansi thorax, memfasilitasi deep breathing dan sering digunakan untuk menstimulasi reflex batuk.
3.Breathing exercise adalah bagian dari program treatment yang didesain untuk meningkatkan status pulmonal, endurance dan fungsi ADL.
4.Tergantung pada problem klinik pasien, breathing exercise sering dikombinasikan dengan pengobatan, postural drainage penggunaan alat-alat respirasi terapi dan program conditioning.

Indikasi Breathing Exercise
1.Penyakit paru akut atau kronis
a.Penyakit paru obstruktif kronis
b.Pneumonia
c.Atelectasis
d.Emboli pulmo
e.Gangguan respirasi akut.
2.Nyeri pada area thorax dan abdomen setelah pembedahan atau trauma.
3.Obstruksi jalan nafas akibat bronchospasme atau menahan sekresi.
4.Penyakit CNS yang mengarah kepada kelemahan otot :
a.High spinal cord injury.
b.Myophatic progresif akut dan kronik atau penyakit nurophatic.
5.Abnormalitas orthopedic berat yang mempengaruhi fungsi respirasi seperti scoliosis dan kiposis.
6.Penanganan stress.

Tujuan Breathing Exercise

1. Meningkatkan ventilasi.
2. Meningkatkan efektifitas mekanisme batuk.
3. Mencegah atelektasis
4. Meningkatkan kekuatan, daya tahan dan koordinasi otot-otot respirasi.
5. Mempertahankan atau meningkatkan mobilitas chest dan thoracal spine.
6. Koreksi pola-pola nafas yang tidak efisien dan abnormal.
7. Meningkatkan relaksasi.
8. Mengajarkan pasien bagaimana melakukan tindakan bila terjadi gangguan nafas

Prinsip Umum Mengajarkan Breathing Exercise

1. Bila memungkinkan lakukan ditempat yang tenang tanpa banyak gangguan.
2. Jelaskan kepada pasien tujuan dan rasionalisasi breathing exercise.
3. Tempatkan pasien pada posisi yang nyaman, posisi rileks
4. Observasi dan evaluasi pola napas normal pasien saat istirahat dan melakukan aktifitas.
5. Bila perlu ajarkan teknik relaksasi kepada pasien.
6. Tunjukkan pola yang diinginkan kepada pasien.
7. Minta pasien untuk melakukan pola bernapas yang tepat dalam berbagai posisi baik istirahat maupun saat melakukan aktifitas.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan

1. Pasien tidak boleh melakukan force expiration.
2. Pasien tidak boleh melakukan prolonged expiration.
3. Hindari penggunaan accessory muscles saat mengawali inspirasi.
4. Minta pasien untuk melakukan inspirasi dan ekspirasi sebanyak 3 atau 4 kali dalam satu sesi.

Jenis-Jenis Breathing Exercise

1. Diaphragmatic Breathing
2. Segmental Breathing
a. Lateral costal expansion
b. Posterior basal expansion
c. Right middle lobe
d. Pursed lip breathing

Latihan Mobilisasi Thorax

1.Definisi
Suatu bentuk latihan aktive movement pada trunk dan extremitas yang dilakukan dengan deep breathing.

2Tujuan
a.Menjaga dan meningkatkan mobilitas trunk dan shoulder yang mempengaruhi respirasi.
b.Memperkuat kedalaman inspirasi dan expirasi.


3.Specifik Exercises
a.Mobilisasi satu sisi pada chest.
b.Mobilisasi pada upper chest and strech pectoralis muscles.
c.Mobilisasi upper chest dan shoulders.
d.Meningkatkan expirasi selama deep breathing.

Aktifitas Tambahan

1.Koreksi Postur
2.Streching manual pada trunk
3.ROM exercise untuk menjaga dan meningkatkan gerakan sendi.

CERVICAL ROOT SYNDROME

DEFINISI
Cervical Root Syndrome atau syndroma akar saraf leher adalah suatu keadaan yang disebabkan oleh iritasi atau penekanan akar saraf servikal oleh penonjolan discus invertebralis, gejalanya adalah nyeri leher yang menyebar ke bahu, lengan atas atau lengan bawah, parasthesia, dan kelemahan atau spasme otot.

crs1
Salah satu contoh penyakitnya adalah Syndrome radikulopati. Radikulopati berarti radiks posterior dan anterior yang dilanda proses patologik. Gangguan itu dapat setempat atau menyeluruh.
Dalam mempelajari tentang Cervikal Root Syndroma, ada beberapa istilah yang perlu diketahui sebagai berikut :
1.Anasthesia : hilang perasaan ketika dirangsang ; hipestesia
2.Hiperesthesia : perasaan terasa berlebihan jika dirangsang (kebalikan anasthesia)
3.Parasthesia : perasaan yang timbul secara spontan, tanpa dirangsang ; disebut juga dengan istilah “Kesemutan”.
4.a. Gangguan sensori negative : perasaan abnormal tubuh yang dinamakan anesthesia dan parasthesia.
1.Gangguan sensori positive : hasil perangsangan pada nosiceptor serta unsur-unsur saraf yang menghantarkan impuls nyeri ke kortex cerebri.
1.Ataksia : gangguan lintasan proprioseptif.
2.Hipesthesia radikular : hipesthesia dermatomal.

GAMBAR ANATOMI

Pada daerah leher, banyak terdapat jaringan yang bisa merupakan sumber nyeri. Biasanya rasa nyeri berasal dari jaringan lunak atau ligament, akar saraf, faset artikular, kapsul, otot serta duramater. Nyeri bisa diakibatkan oleh proses degeneratif, infeksi/inflamasi, iritasi dan trauma. Selain itu perlu juga diperhatikan adanya nyeri alih dari organ atau jaringan lain yang merupakan distribusi dermatomal yang dipersarafi oleh saraf servikal.

anatomi cervical
Radiks anterior dan posterior bergabung menjadi satu berkas di foramen intervertebral dan disebut saraf spinal. Berkas serabut sensorik dari radiks posterior disebut dermatome. Pada permukaan thorax dan abdomen, dermatome itu selapis demi selapis sesuai dengan urutan radiks posterior pada segmen-segmen medulla spinalis C3-C4 dan T3-T12. Tetapi pada permukaan lengan dan tungkai, kawasan dermatome tumpang tindih oleh karena berkas saraf spinal tidak langsung menuju ekstremitas melainkan menyusun plexus dan fasikulus terkebih dahulu baru kemudian menuju lengan dan tungkai. Karena itulah penataan lamelar dermatome C5-T2 dan L2-S3 menjadi agak kabur.
Segala sesuatunya yang bisa merangsang serabut sensorik pada tingkat radiks dan foramen intervertebral dapat menyebabkan nyeri radikuler, yaitu nyeri yang berpangkal pada tulang belakang tingkat tertentu dan menjalar sepanjang kawasan dermatome radiks posterior yang bersangkutan. Osteofit, penonjolan tulang karena faktor congenital, nukleus pulposus atau serpihannya atau tumor dapat merangsang satu atau lebih radiks posterior.
Pada umumnya, sebagai permulaan hanya satu radiks saja yang mengalami iritasi terberat, kemudian yang kedua lainnya mengalami nasib yang sama karena adanya perbedaan derajat iritasi, selisih waktu dalam penekanan, penjepitan dan lain sebagainya. Maka nyeri radikuler akibat iritasi terhadap 3 radiks posterior ini dapat pula dirasakan oleh pasien sebagai nyeri neurogenik yang terdiri atas nyeri yang tajam, menjemukan dan paraestesia.
Nyeri yang timbul pada vertebra servikalis dirasakan didaerah leherdan belakang kepala sekalipun rasa nyeri ini bisa di proyeksikan ke daerah bahu, lengan atas, lengan bawab\h atau tangan. Rasa nyeri di picu/diperberat dengan gerakan/posisi leher tertentu dan akan disertai nyeri tekan serta keterbatasan gerakan leher.
DIAGNOSA

A. ANAMNESA
Anamnesa adalah hal-hal yang menjadi sejarah kasus pasien, juga berguna untuk menentukan diagnosa, karena misalnya dengan pendekatan psikiatri terhadap depresinya yang kadang merupakan factor dasar nyeri bahu ini.
Gejala-gejala yang mungkin nampak pada inspeksi dan palpasi, misalnya :
1.Nyeri kaku pada leher
2.Rasa nyeri dan tebal dirambatkan ke ibu jari dan sisi radial tangan
3.Dijumpai kelemahan pada biceps atau triceps
4.berkurangnya reflex biceps
5.Dijumpai nyeri alih (referred pain) di bahu yang samar, dimana “nyeri bahu” hanya dirasa bertahan di daerah deltoideus bagian lateral dan infrascapula atas.

B. PEMERIKSAAN / TES KHUSUS
Untuk tes-tes khusus yang harus dilakukan sebenarnya banyak, misalnya :
1. Tes Provokasi
Tes Spurling atau tes Kompresi Foraminal, dilakukan dengan cara posisi leher diekstensikan dan kepala dirotasikan ke salah satu sisi, kemudian berikan tekanan ke bawah pada puncak kepala. Hasil positif bila terdapat nyeri radikuler ke arah ekstremitas ipsilateral sesuai arah rotasi kepala. Pemeriksaan ini sangat spesifik namun tidak sensitif guna mendeteksi adanya radikulopati servikal. Pada pasien yang datang ketika dalam keadaan nyeri, dapat dilakukan distraksi servikal secara manual dengan cara pasien dalam posisi supinasi kemudian dilakukan distraksi leher secara perlahan. Hasil dinyatakan positif apabila nyeri servikal berkurang.

2. Tes Distraksi Kepala
Distraksi kepala akan menghilangkan nyeri yang diakibatkan oleh kompresi terhadap radiks syaraf. Hal ini dapat diperlihatkan bila kecurigaan iritasi radiks syaraf lebih memberikan gejala dengan tes kompresi kepala walaupun penyebab lain belum dapat disingkirkan.

3. Tindakan Valsava
Dengan tes ini tekanan intratekal dinaikkan, bila terdapat proses desak ruang di kanalis vertebralis bagian cervical, maka dengan di naikkannya tekanan intratekal akan membangkitkan nyeri radikuler. Nyeri syaraf ini sesuai dengan tingkat proses patologis dikanalis vertebralis bagian cervical. Cara meningkatkan tekanan intratekal menurut Valsava ini adalah pasien disuruh mengejan sewaktu ia menahan nafasnya. Hasil positif bila timbul nyeri radikuler yang berpangkal di leher menjalar ke lengan.


PENGOBATAN

A. OBAT
Obat penghilang nyeri atau relaksan otot dapat diberikan pada fase akut. Obat-obatan ini biasanya diberikan selama 7-10 hari. Jenis obat-obatan yang banyak digunakan biasanya dari golongan salisilat atau NSAID. Bila keadaan nyeri dirasakan begitu berat, kadang-kadang diperlukan juga analgetik golongan narkotik seperti codein, meperidin, bahkan bisa juga diberikan morfin. Ansiolitik dapat diberikan pada mereka yang mengalami ketegangan mental. Pada kondisi tertentu seperti nyeri yang diakibatkan oleh tarikan, tindakan latihan ringan yang diberikan lebih awal dapat mempercepat proses perbaikan. Kepala sebaiknya diletakan pada bantal servikal sedemikian rupa yaitu sedikit dalam posisi flexi sehingga pasien merasa nyaman dan tidak mengakibatkan gerakan kearah lateral. Istirahat diperlukan pada fase akut nyeri,terutama pada spondilosis servikalis atau kelompok nyeri non spesifik.
Obat-obatan yang banyak digunakan adalah:
•Ibuprofen 400 mg, tiap 4-6 jam (PO)
•Naproksen 200-500 mg, tiap 12 jam (PO)
•Fenoprofen 200 mg, tiap 4-6 jam (PO)
•Indometacin 25-50 mg, tiap 8 jam (PO)
•Kodein 30-60 mg, tiap jam (PO/Parentral)
•Vit. B1, B6, B12

B. FISIOTERAPI
Tujuan utama penatalaksanaan adalah reduksi dan resolusi nyeri, perbaikan atau resolusi defisit neurologis dan mencegah komplikasi atau keterlibatan medulla spinalis lebih lanjut.
1. Traksi
Tindakan ini dilakukan apabila dengan istirahat keluhan nyeri tidak berkurang atau pada pasien dengan gejala yang berat dan mencerminkan adanya kompresi radiks saraf. Traksi dapat dilakukan secara terus-menerus atau intermiten.

Traksi
2. Cervical Collar
Pemakaian cervical collar lebih ditujukan untuk proses imobilisasi serta mengurangi kompresi pada radiks saraf, walaupun belum terdapat satu jenis collar yang benar-benar mencegah mobilisasi leher. Salah satu jenis collar yang banyak digunakan adalah SOMI Brace (Sternal Occipital Mandibular Immobilizer).
Collar digunakan selama 1 minggu secara terus-menerus siang dan malam dan diubah secara intermiten pada minggu II atau bila mengendarai kendaraan. Harus diingat bahwa tujuan imobilisasi ini bersifat sementara dan harus dihindari akibatnya yaitu diantaranya berupa atrofi otot serta kontraktur. Jangka waktu 1-2 minggu ini biasanya cukup untuk mengatasi nyeri pada nyeri servikal non spesifik. Apabila disertai dengan iritasi radiks saraf, adakalanya diperlukan waktu 2-3 bulan. Hilangnya nyeri, hilangnya tanda spurling dan perbaikan defisit motorik dapat dijadikan indikasi pelepasan collar.

Cervical Collar
3. Thermoterapi
Thermoterapi dapat juga digunakan untuk membantu menghilangkan nyeri. Modalitas terapi ini dapat digunakan sebelum atau pada saat traksi servikal untuk relaksasi otot. Kompres dingin dapat diberikan sebanyak 1-4 kali sehari selama 15-30 menit, atau kompres panas/pemanasan selama 30 menit 2-3 kali sehari jika dengan kompres dingin tidak dicapai hasil yang memuaskan. Pilihan antara modalitas panas atau dingin sangatlah pragmatik tergantung persepsi pasien terhadap pengurangan nyeri.

Thermoterapi
4. Latihan
Berbagai modalitas dapat diberikan pada penanganan nyeri leher. Latihan bisa dimulai pada akhir minggu I. Latihan mobilisasi leher kearah anterior, latihan mengangkat bahu atau penguatan otot banyak membantu proses penyembuhan nyeri. Hindari gerakan ekstensi maupun flexi. Pengurangan nyeri dapat diakibatkan oleh spasme otot dapat ditanggulangi dengan melakukan pijatan.
C. OPERASI
Tindakan operatif lebih banyak ditujukan pada keadaan yang disebabkan kompresi terhadap radiks saraf atau pada penyakit medula spinalis yang berkembang lambat serta melibatkan tungkai dan lengan. Pada penanggulangan kompresi tentunya harus dibuktikan dengan adanya keterlibatan neurologis serta tidak memberikan respon dengan terapi medikamentosa biasa.
D. LARANGAN
Menghindari bekerja dengan kepala terlalu turun atau satu posisi dalam waktu yang lama, pegangan dan posisi yang sering berulang.
E. SARAN
Untuk mencapai kondisi pemulihan pasien sehingga bisa secepatnya kembali bekerja adalah kesadaran tentang pentingnya kesehatan dan lingkungan kerja yang baik. Untuk mencegah terjadinya nyeri tengkuk ada beberapa nasehat yang bermanfaat:
•Sikap tubuh yang baik dimana tubuh tegak, dada terangkat, bahu santai, dagu masuk, leher merasa kuat, longgar dan santai.
•Tidur dengan bantal atau bantal Urethane.
•Memelihara sendi otot yang fleksibel dan kuat dengan latihan yang benar.
•Pencegahan nyeri cervical ulangan yaitu dengan memperhatikan posisi saat duduk, mengendarai kendaraan, dan posisi leher yang berkaitan dengan berbagai pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.

LBP (Low Back Pain)

PENDAHULUAN
Hampir semua orang pernah mengalami nyeri pinggang, hal ini menunjukan seringnya gejala ini dijumpai pada sebagian besar penderita. Sakit pinggang merupakan keluhan banyak penderita yang berkunjung ke dokter. Yang dimaksud dengan istilah sakit pinggang bawah ialah nyeri, pegal linu, ngilu, atau tidak enak didaerah lumbal berikut sacrum. Dalam bahasa inggris disebut dengan istilah Low Back Pain (LBP).
Penyebab LBP bermacam-macam dan multifaktorial; banyak yang ringan, namun ada juga yang berat yang harus ditanggulangi dengan cepat dan tepat. Mengingat tingginya angka kejadian LBP, maka tidaklah bijaksana untuk melakukan pemeriksaan laboratorium yang mendalam secara rutin pada tiap penderita. Hal ini akan memakan waktu yang lama, dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang seksama dan dibantu oleh pemeriksaan laboratorium yang terarah, maka penyebab LBP dapat ditegakan pada sebagian terbesar penderita
Untuk lebih mendalami tentang low back pain, sejenak perlu diketahui dahulu fungsi dari tulang belakang. Tulang belakang merupakan daerah penyokong terbanyak dalam fungsi tubuh. Tulang belakang terdiri atas 33 ruas yang merupakan satu kesatuan fungsi dan bekerja bersama-sama melakukan tugas-tugas seperti:
1. memperhatikan posisi tegak tubuh
2. menyangga berat badan
3. fungsi pergerakan tubuh
4. pelindung jaringan tubuh
Pada saat berdiri, tulang belakang memiliki fungsi sebagai penyangga berat badan, sedangkan pada saat jongkok atau memutar, tulang belakang memiliki fungsi sebagai penyokong pergerakan tersebut. Struktur dan peranan yang kompleks dari tulang belakang inilah yang seringkali menyebabkan masalah.
Pada makalah ini pengertian nyeri pinggang bawah digunakan untuk menjelaskan gejala nyeri yang terlokalisir didaerah lumbal atau nyeri yang menjalar ke tungkai atau kaki dengan menyingkirkan penyebab nyeri lain yang spesifik.
DEFINISI
Nyeri pinggang bawah atau low back pain merupakan rasa nyeri, ngilu, pegal yang terjadi di daerah pinggang bagian bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah diagnosis tapi hanya gejala akibat dari penyebab yang sangat beragam.
Low Back Pain menurut perjalanan kliniknya dibedakan menjadi dua yaitu :
A. Acute low back pain
Rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba, rentang waktunya hanya sebentar, antara beberapa hari sampai beberapa minggu. Rasa nyeri ini dapat hilang atau sembuh. Acute low back pain dapat disebabkan karena luka traumatic seperti kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian tersebut selain dapat merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan tendon. Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada daerah lumbal dan spinal dapat masih sembuh sendiri. Sampai saat ini penatalaksanan awal nyeri pinggang acute terfokus pada istirahat dan pemakaian analgesik.
B. Chronic low back pain
Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 3 bulan atau rasa nyeri yang berulang-ulang atau kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki onset yang berbahaya dan sembuh pada waktu yang lama. Chronic low back pain dapat terjadi karena osteoarthritis, rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus intervertebralis dan tumor.
Disamping hal tersebut diatas terdapat juga klasifikasi patologi yang klasik yang juga dapat dikaitkan LBP. Klasifikasi tersebut adalah :
1. Trauma
2. Infeksi
3. Neoplasma
4. Degenerasi
5. Kongenital
EPIDEMIOLOGI
Nyeri pinggang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting pada semua negara. Besarnya masalah yang diakibatkan oleh nyeri pinggang dapat dilihat dari ilustrasi data berikut. Pada usia kurang dari 45 tahun, nyeri pinggang menjadi penyebab kemangkiran yang paling sering, penyebab tersering kedua kunjungan kedokter, urutan kelima masuk rumah sakit dan masuk 3 besar tindakan pembedahan. Pada usia antara 19-45 tahun, yaitu periode usia yang paling produktif, nyeri pinggang menjadi penyebab disabilitas yang paling tinggi.
Di Indonesia, LBP dijumpai pada golongan usia 40 tahun. Secara keseluruhan, LBP merupakan keluhan yang paling banyak dijumpai (49 %). Pada negara maju prevalensi orang terkena LBP adalah sekitar 70-80 %. Pada buruh di Amerika, kelelahan LBP meningkat sebanyak 68 % antara thn 1971-1981.
Sekitar 80-90% pasien LBP menyatakan bahwa mereka tidak melakukan usaha apapun untuk mengobati penyakitnya jadi dapat disimpulkan bahwa LBP meskipun mempunyai prevalensi yang tinggi namun penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya.
ANATOMI
Struktur utama dari tulang punggung adalah vertebrae, discus invertebralis, ligamen antara spina, spinal cord, saraf, otot punggung, organ-organ dalam disekitar pelvis, abdomen dan kulit yang menutupi daerah punggung.
Columna vertebralis (tulang punggung) terdiri atas :
1. Vertebrae cervicales 7 buah
2. Vertebrae thoracalis 12 buah
3. Vertebrae lumbales 5 buah
4. Vertebrae sacrales 5 buah
5. Vertebrae coccygeus 4-5 buah
Vertebra cervicales, thoracalis dan lumbalis termasuk golongan true vertebrae.
Pada vertebrae juga terdapat otot-otot yang terdiri atas :
1. Musculus trapezius
2. Muskulus latissimus dorsi
3. Muskulus rhomboideus mayor
4. Muskulus rhomboideus minor
5. Muskulus levator scapulae
6. Muskulus serratus posterior superior
7. Muskulus serratus posterior inferior
8. Muskulus sacrospinalis
9. Muskulus erector spinae
10. Muskulus transversospinalis
11. Muskulus interspinalis
Otot-otot tersebut yang menghubungkan bagian punggung ke arah ekstrremitas maupun yang terdapat pada bagian punggung itu sendiri.Otot pada punggung memiliki fungsi sebagai pelindung dari columna spinalis, pelvis dan ekstremitas. Otot punggung yang mengalami luka mungkin dapat menyebabkan terjadinya low back pain.


PENYEBAB
Penyebab nyeri pinggang bawah bermacam-macam dan multifaktor. Di antaranya dapat disebut :
1) KELAINAN KONGENITAL
Kelainan kongenital tidak merupakan penyebab nyeri pinggang bawah yang penting. Kelainan kongenital yang dapat menyebabkan nyeri pinggang bawah adalah :

a) Spondilolisis dan spondilolistesis
Pada Spondilolisis tampak bahwa sewaktu pembentukan korpus vertebrae itu ( in utero ) arkus vertebrae tidak bertemu dengan korpus vertebraenya sendiri.
Pada spondilolistesis korpus vertebrae itu sendiri ( biasanya L5 ) tergeser ke depan.
Walaupun kejadian ini terjadi sewaktu bayi itu masih berada dalam kandungan, namun ( oleh karena timbulnya kelinan-kelainan degeneratif ) sesudah berumur 35 tahun, barulah timbul keluhan nyeri pinggang. Nyeri pinggang ini berkurang / hilang bila penderita duduk atau tidur. Dan akan bertambah, bila penderita itu berdiri atau berjalan.
Spondilolitesis dapat mengakibatkan tertekuknya radiks L5 sehingga timbul nyeri radikuler.
b) Spina Bifida
Bila di daerah lumbosakral terdapat suatu tumor kecil yang ditutupi oleh kulit yang berbulu, maka hendaknya kita waspada bahwa didaerah itu ada tersembunyi suatu spina bifida okulta.
Pada foto rontgen tampak bahwa terdapat suatu hiaat pada arkus spinosus di daerah lumbal atau sakral. Karena adanya defek tersebut maka pada tempat itu tidak terbentuk suatu ligamentum interspinosum.
Keadaan ini akan menimbulkan suatu “lumbo-sakral sarain” yang oleh si penderita dirasakan sebagai nyeri pinggang.
c) Stenosis kanalis vertebralis
Diagnosis penyakit ini ditegakkan secara radiologis. Walaupun penyakit telah ada sejak lahir, namun gejala-gejalanya baru tampak setelah penderita berumur 35 tahun.
Gejala yang tampak adalah timbulnya nyeri radikuler bila si penderita jalan dengan sikap tegak. Nyeri hilang begitu penderita berhenti jalan atau bila ia duduk. Untuk menghilangkan rasa nyerinya maka penderita lantas jalan sambil membungkuk.
d) Spondylosis lumbal
Penyakit sendi degeneratif yang mengenai vertebra lumbal dan discus intervertebralis, yang menyebabkan nyeri dan kekakuan.

e) Spondylitis.
Suatu bentuk degeneratif sendi yang mengenai tulang belakang . ini merupakan penyakit sistemik yang etiologinya tidak diketahui, terutama mengenai orang muda dan menyebabkan rasa nyeri dan kekakuan sebagai akibat peradangan sendi-sendi dengan osifikasi dan ankilosing sendi tulang belakang.
2) TRAUMA DAN GANGGUAN MEKANIS
Trauma dan gngguan mekanis merupakan penyebab utam nyeri pinggang bawah. Pada orang-orang yang tidak biasa melakukan pekerjaan otot atau sudah lama tidak melakukan kegiatan ini dapat menderita nyeri pinggang bawah yang akut. Cara bekerja di pabrik atau di kantor dengan sikap yang salah lama-lama nenyebabkan nyeri pinggang bawah yang kronis.
Patah tulang, pada orang yang umurnya sudah agak lanjut sering oleh karena trauma kecil saja dapat menimbulkan fraktur kompresi pada korpus vertebra. Hal ini banyak ditemukan pada kaum wanita terutam yang sudah sering melahirkan. Dalam hal ini tidak jarang osteoporosis menjadi sebab dasar daripada fraktur kompresi. Fraktur pada salah satu prosesus transversus terutama ditemukan pada orang-orang lebih muda yang melakukan kegiatan olahraga yang terlalu dipaksakan.
Pada penderita dengan obesitas mungkin perut yang besar dapat menggangu keseimbangan statik dan kinetik dari tulang belakang sehingga timbul nyeri pinggang.
Ketegangan mental terutama ketegangan dalam bidang seksual atau frustasi seksual dapat ditransfer kepada daerah lumbal sehingga timbul kontraksi otot-otot paraspinal secara terus menerus sehingga timbul rasa nyeri pinggang. Analog dengan tension headache maka nyeri pinggang semacam ini dapat dinamakan “tension backache”.
Tidak jarang seorang pemuda mengeluh tentang nyeri pinggang, yang timbul karena adanya anggapan yang salah yaitu bahwa karena seringnya melakukan onani di waktu yang lampau lantas kini sumsum balakangnya telah menjadi kering dan nyeri.
3. RADANG ( INFLAMASI )
Artritis rematoid dapat melibatkan persendian sinovial pada vertebra. Artritis rematoid merupakan suatu proses yang melibatkan jaringan ikat mesenkimal.
Penyakit Marie-Strumpell
Penyakit Marie-Strumpell, yang juga dikenal dengan nama spondilitis ankilosa atau bamboo spine terutama mengenai pria dan teruta mengenai kolum vertebra dan persendian sarkoiliaka. Gejala yang sering ditemukan ialah nyeri lokal dan menyebar di daerah pnggang disertai kekakuan
( stiffness ) dan kelainan ini bersifat progresif.
4. TUMOR ( NEOPLASMA )
Tumor vertebra dan medula spinalis dapat jinak atau ganas. Tumor jinak dapat mengenai tulang atau jaringan lunak. Contoh gejala yang sering dijumpai pada tumor vertebra ialah adanya nyeri yang menetap. Sifat nyeri lebih hebat dari pada tumor ganas daripada tumor jinak. Contoh tumor tulang jinak ialah osteoma osteoid, yang menyebabkan nyeri pinggang terutama waktu malam hari. Tumor ini biasanya sebesar biji kacang, dapat dijumpai di pedikel atau lamina vertebra. Hemangioma adalah contoh tumor benigna di kanalis spinal yang dapat menyebabkan nyeri pinggang bawah. Meningioma adalah tumor intradural dan ekstramedular yang jinak, namun bila ia tumbuh membesar dapat mengakibatkan gejala yang besar seperti kelumpuhan
5. GANGGUAN METABOLIK
Osteoporosis akibat gangguan metabolik yang merupakan penyebab banyak keluhan nyeri pada pinggang dapat disebabkan oleh kekurangan protein atau oleh gangguan hormonal (menopause,penyakit cushing). Sering oleh karena trauma ringan timbul fraktur kompresi atau seluruh panjang kolum vertebra berkurang karena kolaps korpus vertebra.penderita menjadi bongkok dan pendek denga nyeri difus di daerah pinggang.
6.PSIKIS
Banyak gangguan psikis yang dapat memberikan gejala nyeri pinggang bawah.misalnya anksietas dapat menyebabkan tegang otot yang mengakibatkan rasa nyeri,misalnya dikuduk atau di pinggang;rasa nyeri ini dapat pula kemudian menambah meningkatnya keadaan anksietas dan diikuti oleh meningkatnya tegang otot dan rasa nyeri.kelainan histeria,kadang-kadang juga mempunyai gejala nyeri pinggang bawah.
FAKTOR RESIKO
Faktor resiko nyeri pinggang meliputi usia, jenis kelamin, berat badan, etnis, merokok sigaret, pekerjaan, paparan getaran, angkat beban yang berat yang berulang-ulang, membungkuk, duduk lama, geometri kanal lumbal spinal dan faktor psikososial. Pada laki-laki resiko nyeri pinggang meningkat sampai usia 50 tahun kemudian menurun, tetapi pada wanita tetap terus meningkat. Peningkatan insiden pada wanita lebih 50 tahun kemungkinan berkaitan dengan osteoporosis.
LOKASI
Lokasi untuk nyeri pinggang bawah adalah daerah lumbal bawah, biasanya disertai penjalaran ke daerah-daerah lain, antara lain sakroiliaka, koksigeus, bokong, kebawah lateral atau posterior paha, tungkai, dan kaki.
DIAGNOSA
1. ANAMNESA
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan dalam menganamnesa pasien dengan kemungkinan diagnosa Low Back Pain.
1. Apakah terasa nyeri ?
2. Dimana terasa nyeri ?
3. Sudah berapa lama merasakan nyeri ?
4. Bagaimana kuantitas nyerinya? (berat atau ringan)
5. Apa yang membuat nyeri terasa lebih berat atau terasa lebih ringan?
6. Adakah keluhan lain?
7. apakah dulu anda ada menderita penyakit tertentu?
8. bagaimana keadaan kehidupan pribadi anda?
9. bagaimana keadaan kehidupan sosial anda?

2. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan fisik secara komprehensif pada pasien dengan nyeri pinggang meliputi evaluasi sistem neurologi dan muskuloskeltal. Pemeriksaan neurologi meliputi evaluasi sensasi tubuh bawah, kekuatan dan refleks-refleks
1. Motorik.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi :
a. Berjalan dengan menggunakan tumit.
b. Berjalan dengan menggunakan jari atau berjinjit.
c. Jongkok dan gerakan bertahan ( seperti mendorong tembok )
2. Sensorik.
a. Nyeri dalam otot.
b. Rasa gerak.
3.Refleks.
Refleks yang harus di periksa adalah refleks di daerah Achilles dan Patella, respon dari pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengetahui lokasi terjadinya lesi pada saraf spinal.
4. Test-Test
a. Test Lassegue
Pada tes ini, pertama telapak kaki pasien ( dalam posisi 0° ) didorong ke arah muka kemudian setelah itu tungkai pasien diangkat sejauh 40° dan sejauh 90°.

b. Test Patrick
Tes ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan di pinggang dan pada sendi sakro iliaka. Tindakan yang dilakukan adalah fleksi, abduksi, eksorotasi dan ekstensi.

c. Test Kebalikan Patrick
Dilakukan gerakan gabungan dinamakan fleksi, abduksi, endorotasi, dan ekstensi meregangkan sendi sakroiliaka. Test Kebalikan Patrick positif menunjukkan kepada sumber nyeri di sakroiliaka.
PENUNJANG
FOTO
1.Plain
X-ray adalah gambaran radiologi yang mengevaluasi tulang,sendi, dan luka degeneratif pada spinal.Gambaran X-ray sekarang sudah jarang dilakukan, sebab sudah banyak peralatan lain yang dapat meminimalisir waktu penyinaran sehingga efek radiasi dapat dikurangi.X-ray merupakan tes yang sederhana, dan sangat membantu untuk menunjukan keabnormalan pada tulang. Seringkali X-ray merupakan penunjang diagnosis pertama untuk mengevaluasi nyeri punggung, dan biasanya dilakukan sebelum melakukan tes penunjang lain seperti MRI atau CT scan. Foto X-ray dilakukan pada posisi anteroposterior (AP ), lateral, dan bila perlu oblique kanan dan kiri.

2. Myelografi
Myelografi adalah pemeriksan X-ray pada spinal cord dan canalis spinal. Myelografi merupakan tindakan infasif, yaitu cairan yang berwarna medium disuntikan ke kanalis spinalis, sehingga struktur bagian dalamnya dapat terlihat pada layar fluoroskopi dan gambar X-ray. Myelogram digunakan untuk diagnosa pada penyakit yang berhubungan dengan diskus intervertebralis, tumor spinalis, atau untuk abses spinal.

3. Computed Tornografi Scan ( CT- scan ) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI )
CT-scan merupakan tes yang tidak berbahaya dan dapat digunakan untuk pemeriksaan pada otak, bahu, abdomen, pelvis, spinal, dan ekstemitas. Gambar CT-scan seperti gambaran X-ray 3 dimensi.
MRI dapat menunjukkan gambaran tulang belakang yang lebih jelas daripada CT-scan. Selain itu MRI menjadi pilihan karena tidak mempunyai efek radiasi. MRI dapat menunjukkan gambaran tulang secara sebagian sesuai dengan yang dikehendaki. MRI dapat memperlihatkan diskus intervertebralis, nerves, dan jaringan lainnya pada punggung.

4. Electro Miography ( EMG ) / Nreve Conduction Study ( NCS )
EMG / NCS merupakan tes yang aman dan non invasif yang digunakan untuk pemeriksaansaraf pada lengan dan kaki.
EMG / NCS dapat memberikan informasi tentang :
1. Adanya kerusakan pada saraf
2. Lama terjadinya kerusakan saraf ( akut atau kronik )
3. Lokasi terjadinya kerusakan saraf ( bagian proksimalis atau distal )
4. Tingkat keparahan dari kerusakan saraf
5. Memantau proses penyembyhan dari kerusakan saraf
Hasil dari EMG dan MRI dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi fisik pasien dimana mungkin perlu dilakukan tindakan selanjutnya yaitu pambedahan.
PENGOBATAN
Obat
1. Obat-obat analgesik
Obat-obat analgesik umumya dibagi menjadi dua golongan besar :
- Analgetik narkotik
Obat-obat golongan ini terutama bekerja pada susunan saraf digunakan untuk menghilangkan rasa sakit yang berasal dari organ viseral. Obat golongan ini hampir tidak digunakan untuk pengobatan LBP karena bahaya terjadinya adiksi pada penggunaan jangka panjang. Contohnya : Morfin, heroin, dll.
- Analgetik antipiretik
Sangat bermanfat untuk menghilangkan rasa nyeri mempunyai khasiat anti piretik, dan beberapa diantaranya juga berkhasiat antiinflamasi. Kelompok obat-obat ini dibagi menjadi 4 golongan :

a) Golongan salisilat
Merupakan analgesik yang paling tua, selain khasiat analgesik juga mempunyai khasiat antipiretik, antiinflamasi, dan antitrombotik. Contohnya : Aspirin
Dosis Aspirin : Sebagai anlgesik 600 – 900 mg, diberikan 4 x sehari
Sebagai antiinflamasi 750 – 1500 mg, diberikan 4 x sehari
Kontraindikasi : Penderita tukak lambung
Resiko terjadinya pendarahan
Gangguan faal ginjal
Hipersensitifitas
Efek samping : Gangguan saluran cerna
Anemia defisiensi besi
Serangan asma bronkial
b) Golongan Paraaminofenol
Paracetamol dianggap sebagai analgesik-antipiretik yang paling aman untuk menghilangkan rasa nyeri tanpa disertai inflamasi.
Dosis terapi : 600 – 900 mg, diberikan 4 x sehari
c) Golongan pirazolon
Dipiron mempunyai aceptabilitas yang sangat baik oleh penderita, lebih kuat dari pada paracetamol, dan efek sampingnya sangat jarang.
Dosis terapi : 0,5 – 1 gram, diberikan 3 x sehari
d) Golongan asam organik yang lain
Derivat asam fenamat
Yang termasuk golongan ini misalnya asam mefenamt, asam flufenamat, dan Na- meclofenamat.Golongan obat ini sering menimbulkan efek samping terutama diare.Dosis asam mefenamat sehari yaitu 4×500 mg,sedangkan dosis Na-meclofenamat sehari adalah 3-4 kali 100 mg.
Derivat asam propionat
Golongan obat ini merupakan obat anti inflamasi non steroid (AINS) yang relatif baru, yang juga mempunyai khasiat anal getik dam anti piretik. Contoh obat golongan ini misalnya ibuprofen, naproksen, ketoprofen, indoprofen dll.
Derifat asam asetat
Sebagai contoh golonagn obat ini ialah Na Diklofenak. Selain mempunyai efek anti inflamasi yang kuat, juga mempunyai efek analgesik dan antipiretik. Dosis terapinya 100-150 mg 1 kali sehari.
Derifat Oksikam
Salah satu contohnya adalah Piroxicam, dosis terapi 20 mg 1 kali sehari.

Fisioterapi
a. Terapi Panas
Terapi menggunakan kantong dingin – kantong panas. Dengan menaruh sebuah kantong dingin di tempat daerah punggung yang terasa nyeri atau sakit selama 5-10 menit. Jika selama 2 hari atau 48 jam rasa nyeri masih terasa gunakan heating pad (kantong hangat).


b. Elektro Stimulus
- Acupunture
Menggunakan jarum untuk memproduksi rangsangan yang ringan tetapi cara ini tidak terlalu efisien karena ditakutkan resiko komplikasi akibat ketidaksterilan jarum yang digunakan sehingga menyebabkan infeksi.
- Ultra Sound
Untuk menghangatkan

- Radiofrequency Lesioning
Dengan menggunakan impuls listrik untuk merangsang saraf
- Spinal Endoscopy
Dengan memasukkan endoskopi pada kanalis spinalis untuk memindahkan atau menghilangkan jaringan scar.
- Percutaneous Electrical Nerve Stimulation (PENS)
- Elektro Thermal Disc Decompression
-Trans Cutaneous Electrical Nerve Stimulation ( TENS )
Menggunakan alat dengan tegangan kecil.
c. Traction
Helaan atau tarikan pada badan ( punggung ) untuk kontraksi otot.

d. Pemijatan atau massage
Dengan terapi ini bisa menghangatkan, merileksi otot belakang dan melancarkan
perdarahan.

Latihan Low Back Pain dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Lying supine hamstring stretch

b. Knee to chest stretch

c. Pelvic Tilt

d. Sitting leg stretch

e. Hip and quadriceps stretch

1. Back corsets.
Penggunaan penahan pada punggung sangat membantu untuk mengatasi Low Back Pain yang dapat membungkus pnggung dan perut.

2. Tongkat Jalan

Operasi
Tipe operasi yang dilakukan oleh dokter bedah tergantung pada tulang belakang/punggung pasien. Biasanya prosedurnya menyangkut pada LAMINECTOMY yang mana menghendaki bagian yang dinagkat dari vertebral arch untuk memperoleh kepastian apa penyebab dari LBP pasien. Jika disc menonjol atau bermasalah, para ahli bedah akan melakukan bagian laminectomy untuk mencari tahu vertebral kanal, mengidentisir ruptered disc ( disc yang buruk ), dan mengambil atau memindahkan bagian yang baik dari disc yang bergenerasi, khususnya kepingan atau potongan yang menindih saraf.
Ahli bedah mungkin mempertimbangkan prosedur kedua yaitu SPINAL FUSION, jika si pasien merasa membutuhkan keseimbangan di bagian spinenya. Spinal fusion merupakan operasi dengan menggabungkan vertebral dengan bone grafts. Kadang graft tersebut dikombinasikan dengan metal plate atau dengan alat yang lain.
Ada juga sebagian herniated disc ( disc yang menonjol ) yang dapat diobati dengan teknik PERCUTANEOUS DISCECTOMY, yang mana discnya diperbaiki menembus atau melewati kulit tanpa membedah dengan menggunakan X-ray sebagai pemandu. Ada juga cara lain yaitu CHEMONEUCLOLYSIS, cara ini menggunakan penyuntikan enzim-enzim ke dalam disc. Cara ini sudah jarang digunakan.
Larangan
a. Berdiri terlalu lama tanpa diselingi gerakan seperti jongkok.
b. Membawa beban yang berat.
c. Duduk terlalu lama.
d. Memakai sepatu hak tinggi.
e. Menulis sambil membungkuk terlalu lama.
f. Tidur tanpa menggunakan alas di permukaan yang keras atau menggunakan kasur yang terlalu empuk.
Anjuran
a. Posisikan kepala dititik tertinggi, bahu ditaruh sedikit kebelakang.
b. Duduk tegak 90 derajat.
c. Gunakanlah sepatu yang nyaman.
d. Jika ingin duduk dengan jangka wqktu yang lama, istirahatkan kaki di lantai atau apa saja yang mnurut anda nyaman.
e. Jika mempunyai masalah dengan tidur, taruhlah bantal di bawah lutut atau jika tidur menyamping, letakkanlah bantal diantara kedua lutut.
f. Hindari berat badan yang berlebihan.
g. Ketika memerlukan berdiri dalam waktu lama salah satu kaki diletakkan diatas supaya sudut ferguson tidak terlalu besar ( sudut ferguson adalah sudut kemiringan sakrum dengan garis horisontal )

Jumat, 18 Juni 2010

RAYNAUD’S DISEASE
A. Pendahuluan
Raynaud’s disease (RAY-noz) merupakan suatu keadaan yang menyerang pembuluh darah pada ektremitas yang terdiri dari tangan, kaki, hidung dan telinga ketika terdapat dingin dan stress. Ini dinamakan oleh Maurice Raynaud (1834 - 1881), seorang terapis dari Perancis yang menyatakan pertama kali pada tahun 1862
Raynauds Disease merupakan salah satu penyakit yang menyerang pembuluh darah arteri, dimana penyebabnya merupakan non-aterosklerotik. Non-aterosklerotik merupakan salah satu penyebab penyakit arteri dimana penyakit hanya menyerang susunan pembuluh darah arteria pada lapisan media arteria dan arteri perifer. Ada beberapa macam penyakit arterial yang disebabkan oleh Non-sterosklerotik tersebut antara lain salah satunya adalah gangguan vasospastik pada pembuluh darah arteri dimana keluhan tersebut dinamakan Raynaud’s Disease. Raynaud’s disease tersebut banyak terjadi pada kalangan wanita muda yang hidup diiklim yang dingin.
Raynaud’s Disease terbagi menjadi dua antara lain Primary dan Secondary Raynaud’s. Raynaud’s Disease banyak menyerang pada wanita muda dan wanita dewasa diiklim dingin. Factor penyebab dari Raynaud’s Disease ini idiopathic atau belum diketahui, tapi penyakit ini terjadi saat terdapat factor pencetus antara lain suhu dingin dan stress . (http://www.raynauds.demon.co.uk/raynauds.html)

B. Anatomi dan Fisiologi Arteri
Pembuluh darah (Blood Vessel) terdiri dari 3 macam antara lain :
1. Arteri
2. Kapiler
3. Vena
Struktur pembuluh darah Terdiri atas tiga lapisan:
1. Lapisan paling luar (Tunika Adventitia atau Tunika Eksterna) : mendapat suplai darah yang mengalir dalam lumen yang masuk secara absorbsi.
2. Lapisan bagian tengah (Tunika Media) : mendapatkan suplai darah endothelial, yaitu pembuluh darah dalam darah (Vasa vasorum) mendapat persyarafan dari saraf otonom yang dikontrol oleh pusat vasomotor pada Medulla Spinalis berfungsi untuk vasodilatasi dan vasokonstriksi. Saraf otonom yang mensyarafi otot-otot halus.
3. Lapisan bagian dalam (Tunika Intima).
Penjelasan :
1.Arteri dibagi menjadi :
a. Arteri besar (arteri type elastis),
Misalnya : aorta, a. anonima
Proporsi jaringan elastis > jaringan otot pada dindingnya (Tunika Media).
Lumen > ketebalan dindingnya dibandingkan dengan arteri kecil.
b.Arteri ukuran medium (arteri type muskuler)
Hampir semua arteri masuk kategori ini.
Proporsi jaringan > jaringan elastis pada Tunika Medianya
2.Arteriole
Tunika Intima dan Tunika Media tipis sehingga Tunika Adventitia dan Tunika Media ketebalannya hampir sama. Saat arteriole bergabung dengan kapiler, maka Tunika Intima dan Tunika Media semakin menipis dan akhirnya menghilang. Sedang Tunika Adventitia berubah menjadi jaringan ikat perivaskuler retikuler. Arteri di otak dan Canalis Vertebralis mempunyai ukuran lebih kecil dibandingkan dengan tempat-tempat lain.
3.Kapiler
Kapiler setelah digabung, panjangnya bisa mencapai 62ribu mil (1 mil – 1,6 km), karena setiap 1 inchi jaringna mengnadung 1,5juta kapiler. Macam kapiler :
a.Kapiler sejati, tidak menghubungkan secara langsung antara Arteriole dan Venulae berupa Anastomase.
b.Metarteriole
c.Troughfar Channel
4.Arteriovenosus Anastomase
5.Arteriovenosus Concomitten, antara Arteri dan Vena saling menyatu.
6.Pembuluh darah Vena (Pumping Action)
Struktur dindingnya seperti pada arteri yaitu :
•Interna/intima : Endothelia
•Middle/media : Muscular
•Externa/adventitia : Connective tissue
Perbedaan utamanya dengan arteri:
•Dinding lebih tipis dan lumen relatif lebih besar
•Dinding media lebih lemah (lebih tipis)
Aliran mempunyai keistimewaan
•Mempunyai klep satu arah
•Dipengaruhi oleh otot rangka --- saat bekerja/ berkontraksi
•Dipengaruhi tekanan negatif dalam thorak ---saat inspirasi
Ada 2 jenis vena,yaitu:
a)Vena superficial (superficial veln)
Misal: Vena Saphenous --- panjang (sebelah medial tungkai) -- Gastrocnemius --- pendek (di belakang) --- sering mengalami varises
b)Vena profunda (deep vein)
Misal: vina tibialis anterior dan posterior, vena poplitea, vena femoralis
Musculovenous Pump:
•Yaitu kontraksi otot yang mendorong naiknya aliran vena/ aksi yang mendorong aliran vena
•Terletak di vena prpfunda, yaitu di vena tibialis
•Diman akontraksi calf muscle akan menekan vena tibialis yang mempunyai katup --- aliran darah akan naik.
•Untuk meningkatkan aliran vena dapat juga dilakukan dengan heathing dan massage.

DASAR FISIOLOGI ALIRAN DARAH
Hukum poeseville : Q=k.Ap.r2
1h
Keterangan :
Q : arus darah
K : bilangan konstan ( / ) yang mempunyai laminar flo9w padapembuluh
Ap : pressure gradient --- membantu pemompaan darah selama systole
R : diameter pembuluh
1 : panjang pembuluh
h : viskositas darah
Local arterial flow :
• Vascular tonew
• Ukuran dan kualitas arus yang berada di sebelah distal
Local venous flow :
• Competent valve
• Gravity
• Muscular contraction --- kontraksi otot-otot
• Soft tissue support
• Periarteral pulses
PERSARAFAN PADA PEMBULUH DARAH
Saraf Otonom :
Sympatic --- vasokonstriktor (C8) , Th 1 – L2 keluar dari kornu lateralis
C.Patologi Raynaud’s Disease
Menurut Sylvia A.Price dan Lorraine M.Wilson, 1992 Raynaud’s syndrome adalah keadaan vasospatik yang disebabkan oleh vasospasme dari arterial dan arteriola kecil kulit dan subkutan.Ada 2 bentuk Raynaud’s syndrome:
1.Primer (idio patik) atau sering disebut Raynaud’s Spastik.
Perjalanan Primary Raynaud’s biasanya jinak, karena sifat vasospasme yang intermitten.
2.Sekunder atau sering disebut Raynaud’s Obstruktif
Disebabkan oleh penyakit obstruktif difus yang di sebabkan kondisi-kondisi penyerta seperti Skleroderma.
Menurut Colema SS dan Anson BJ, 1961
Kondisi-kondisi vasospastik antara lain:
1.Raynaud’s Phenomenon
Kondisi pucat pada jari-jari tangan atau kaki yang terjadi dengan atau tanpa disertai cyanosis karena rangsangan suhu dingin.
2.Raynaud’s Disease disebut juga Primary Raynaud’s
Timbul ketika Raynaud’s Phenemenon terjadi yang tanpa disertai adanya penyakit causative. Sering terjadi pada wanita muda jika kasus memberat akan timbul gangrene atau perubahan atropic yang hanya terbatas pada kulit bagian distal jari-jari kaki atau tangan.
3.Raynaud”s Syndrome disebut juga Secondary Raynaud’s
Timbul ketika Raynaud’s Phenomenon disertai dengan penyakit lain seperti :
a.Connective Tisue Dsorders seperti Lupus Erythematous, Scleroderma, Arthritis, dan lain-lain.
b.Neorologic Disorders
c.Penyumbatan Arterial Disorders
d.Blood Dyscrasias
e.Carpal Tunnel Syndrome
Menurut Cotran Robbins dan Kumar, 1995
1.Raynaud’s Disease
Menunjukan pucat paroxysmal atau sianosis jari tangan atau kaki dan kadang-kadang ujung hidung dan talinga (bagian-bagian akral) dusebabkan oleh vasospasme berat pada wanita muda yang sehat.
2.Raynaud’s Phenemoenon
Menunjukan insufisiensi arterial pada extremitas sekunder terhadap penyempitan arteri akibat belbagai penyebab termasuk:
a.Atero sclerosis
b.Lupus Sistemik
c.Sklerosis Sistemi (skleroderma)
d.Penyakit Buerger
D.Patofisiologis :
Raynaud’s Disease sering terjadi pada kebanyakan wanita muda yang hidup diiklim yang dingin. Raynaud’s disease juga ditandai oleh perubahan fisik dari warna kulit yang dicetuskan oleh rangsangan dingin atau emosi.
Ketika tangan atau kaki terangsang dingin atau emosi maka mula-mula akan terjadi Fase Pucat yang disebabkan vasokonstriksi. Vasokonstriksi ini terjadi karena spasme pada pembuluh darah. Akibat dari spasme pembuluh darah maka kaki atau tangan tidak dapat menerima aliran darah yang cukup dan bahkan tidak cukup untuk menjaga nutrisi yang cukup.
Pada kasus yang parah, maka pembuluh darah itu terus menerus menyempit selama bertahun-tahun, sehingga nutrisi sangat tidak tercukupi atau berkurang yang kemungkinan besar akan menyebabkan iskemik pada jaringan dan jari-jari tangan atau kaki dapat menyebabkan ganggren. Tapi pada kasus yang lebih jinak, hanya terjadi sumbatan sementara pada pembuluh darah pada sebagian jaringan. Pembuluh-pembuluh darah juga tidak dapat mengalir mengalir ke tangan atau kaki, begitupun nutrisinya juga sangat tidak mencukupi. Disini juga akan terjadi iskemik pada jaringan, tetapi iskmik tersebut hanya berlangsung beberapa menit dan akan terjadi Hyperemia Re-aktif. Setelah Hyperemia Re-aktif akan terjadi Fase Sianotik. Dimana fase ini terjadi mobilitas bahan-bahan metabolic abnormal yang mampu memperberat atau menambah rasa sakit, dimana rasa sakit tadi semakin lama akan terus bertambah sakit. Setelah Fase Sianotik terjadi Fase Rubor. Fase ini terjadi akibat dilatasi pembuluh darah pada tangan atau kaki dan mungkin juga diakibatkan Hyperemia Re-aktif yang mampu menimbulkan warna merah yang sangat pada tangan atau kaki. Kadang-kadang juga mampu menimbulkan perasaan baal atau kesukaran dalam pergerakan motorik halus dan suatu sensasi dingin.
E.Etiologi:
Etiologi Raynaud’s Disease tidak ada penyebab yang dikenal atau idiopatik (tidak jelas). Baik untuk Primary Raynaud’s maupun Secondary Raynaud’s. Raynaud’s disease ini merupakan respon berlebihan dari vasomotor sentral dan local normal terhadap dingin atau emosi.
F.Tanda dan gejala :
Tanda dan gejala pada Raynaud’s Disease yang akut antara lain hanya terjadi kesukaran dalam pergerakan halus (perasaan baal) dan kadang kesukaran dalam suatu sensasi dingin. Pada Raynaud’s Disease yang kronis terdapat tanda-tanda antara lain Cyanosis, tapering (jari meruncing), serta ganggren pada ujung-ujung jari dengan jari-jari lebih mengkilap dan flattened pulps.
G.Prognosis :
Pada Raynaud’s Disease terjadi vasospasme yang tampaknya vasospasme tersebut berkaitan dengan dinamika local dinding arteria dan tampaknya juga menunjukkan respon berlebihan dari vasomotor sentral dan local normal terhadap rangsangan dingin atau emosi.
H.Prosedur Diagnostik
Teknik Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik banyak tergantung pada data-data relatif tentang derajat penyakit arteria, sehingga data-data yang diperoleh harus bersifat subjektif. Macam-macam teknik pemeriksaan dibedakan 2 macam:
1.Tes Invasif yang terdiri dari:
a.Dilakukan perabaan denyut pada berbagai temapt disatu sisi tubuh dengan dibandingkan secara relatif terhadap sisi kontralateral, untuk mengetahui kekuatan kekuatan dan kesamaan.
Cara : Denyut nadi dapat dibandingkan sebelum dan sesudah berolahraga. Secara khas pada bagian distal dari suatu lesi obstruksi akan menghilang setelah berolahraga.
Sistem skor :
Derajat kekuatan denyut nadi merupakan ukuran yang subjektif.
Skor-skor :
0 = tidak ada denyut
1 = ada denyut, tapi kekuatannya sangat kurang
2 = ada denyut, tapi kekuatannya berkurang sedang
3 = ada denyut, tapi kekuatannya sedikit berkurang
4 = ada denyut yang normal.
b.Tes menggantung dan menggangkat ektremitas sangat berguna untuk mengevaluasi penyakit oklusif, oleh karena aliran yang menlntasi lesi obstruktif bersifat bergantung pada tekanan dan sangat peka terhadap pengaruh gravitasi.
Perkiraan derajat oklusi : Bergantung pada waktu yang diperlukan untuk menimbulkan pucat setelah pengangkatan dan rubor karena menggantung. Pada keadaan normal, tidak ada warna pucat yang diamati dalam 60 detik setelah ekstremitas diangkat dan warna akan kembali seperti semula dalam 10 detik.
c.Evaluasi pada tes sensasi, kekuatan otot dan temperatur kulit.
2.Tes-tes Non-Invasif terdiri dari:
a.Doppler Ultrasound
Mengetahui kecepatan dan aliran darah arterial karena dalam Doppler ultrasound akan menampilkan keseluruhan frekuensi spectrum sinyal. Dimana pada penyakit arteria menimbulkan kelainan jelas dalam kecepatan dan pola aliran.
b.Scanning Dupplex
Merupakan gabungan antara informasi dari aliran darah intravaskular dengan Doppler dan morfologi pembuluh darah dengan gambaran ultrasonic yang merupakan alat diagnostik vascular yang ampuh.
c.CT-Scan (Computed Tomography-Scan)
Bermanfaat untuk men-diagnosis dan mengevaluasi aneurisme dan diseksi aorta, dan untuk mengevaluasi pasca bedah serta untuk mendapatkan gambar dibagian luar dari lumen pembuluh darah, seperti hematoma atau thrombus mural.
d.Pletismography segmental.
Berguna untuk mengukur perubahan-perubahan yang terjadi dalam volume denyut, serta dilakukan selama istirahat dan segera setelah berolahraga.
I.Pengobatan Raynaud’s disease
Pengobatan pada Raynaud’s disease ini ditujukan untuk menghilangkan factor presipitasi seperti rangsangan dingin atau merokok atau juga emosi yang juga bisa juga diikuti dengan cyanosis dan hyperemia. Pengobatan-pengobatan yang dapat dilakukan antara lain :
a.Pemakaian sarung tangan atau kaos kaki (gloves atau mittens), ditujukan untuk melindungi tangan atau kaki dari udara dingin.
b.Pasien sebisa mungkin berhenti merokok.
c.Terapi obat-obatan antara lain:
1)Alpha-Receptor (memblok factor pembawa)
2)Nitroglycerin ointment (berupa salep)
3)Nifedipine (memblok saluran kalsium sehinggga mampu mengurangi spasme)
4)Beta-blockers and ergotamine.
d.Tindakan Simpatektomi. Dalam tindakan ini dilakukan pemblokan reflek simpatik. Tindakan ini dilakukan dengan cara memotong serabut-serabut preganglionik dalam rantai simpatik setinggi thoracal 2 dan thoracal 3 yang menyela impuls saraf simpatik yang berasal dari medulla spinalis dari tangan atau kaki tersebut terutama berasal dari gangguan stellatum namun pada tindakan ini gangguan stellatumnya tidak dibuang, sebab dengan pembuangan serabut simpatik post ganglionik tadi akan menyebabkan pembuluh-pembuluh darah menjadi sangat sensitive terhadap noreepinefrin dan epinefrin darah sirkulasi. Bila sampai terjadi hal ini maka pada tangan tetap timbul Raynaud’s Disease setiap kali terjadi rangsangan pada kelenjar adrenal
J.Intervensi Fisioterapi
Pada Raynaud’s disease yang kronis hanya mampu dilakukan dengan tindakan Simpatektomi seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Pada Raynaud’s disease yang akut dengan penanganan fisioterapis antara lain
1.Ultra Sound Theraphy
Ultra Sound therapy merupakan teknologi yang menggunakan gelombang suara sehingga menghasilkan energi mekanik. Frekuensi yang sering digunakan Ultra Sound adalah 0,7 MHz – 3 Mhz dengan intensitas kurang lebih 2 W/ cm2.
Efek Ultra Sound antara lain :
a.Mengurangi nyeri
Pengurangan nyeri dapat terjadi karena perbaikan sirkulasi darah, dimana dalam perbaikan sirkulasi darah perifer sebagai konsekuensi adanya pengaruh panas didalam jaringan. Serta pengurangan derajat keasaman karena stimulasi serabut afferen.
b.Meningkatkan permiabilitas jaringan
Dari efek vibrasi menyebabkan cairan jaringan mampu menembus membran sel sehingga mampu merubah konsentrasi ion dan mempermudah rangsangan sel. Didalam sel kandungan protoplasma meningkat sehingga proses pertukaran cairan secara fisiologis terpacu.
c.Relaksasi otot (meningkatkan ektensibilitas jaringan penyambung)
Diperoleh dari penurunan sensitvitas muscle spindle terhadap stretch reflek oleh pengaruh thermal.
d.Pengaruh mekanik
Gelombang UltraSound Therapy menimbulkan adanya peregangan dan pemampatan dalam jaringan sehingga terjadi variasi tekanan dan timbul pengaruh mekanik. Mampu menyebabkan peningkatan permiabilitas dari jaringan otot dan meningkatkan proses metabolisme.
Indikasi dan Kontraindikasi :
Indikasi : Kelainan pada jaringan tulang, sendi dan otot, Keadaan post traumatic seperti kontusio, distorsi, luxation, serta fraktur, Keadaan Rheumatoid Arthritis pada stadium tak aktif seperti Arthritis, Bursitis, kapsulitis, tendonitis, Kelainan penyakit pada sirkulasi darah seperti neuopathie phantom pain, HNP, Raynaud’s disease, Buergers disease, suddeck dystrophy, serta odema.
Kontraindikasi : Absolud seperti mata, jantung, uterus pada wnaita hamil, serta testis. Relatif seperti post laminectomy, hilangnya sensibilitas, endhorprothese, tumor, post traumatic, tromboplhebitis dan varises, septis inflammation, serta Diabetes Mellitus.
Penatalaksanaan : Area yang akan diobati dibersihkan dengan alcohol. Cek apakah tranduser sudah mengeluarkan arus dengan meneteskan sedikit air keatas tranduser. Kemudian pada daerah yang akan diobati diberikan medium tertentu. Intensitas yang digunakan tergantung luas area yang akan diobati. Apabila area kecil maka yang sering digunakan intensitasnya kurang lebih 2 W/cm2. Waktu 1cm2 / menit. Frekuensi kurang lebih 2 –3 kali perminggu. Tranduser yang digunakan era kecil atau besar tergantung luas area yang diobati. Setelah selesai tranduser dibersihkan dengan alkhohol..
2.Infra Red
Sinar infra red merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 7700 – 4 juta Amstrong.
Klasifikasi sinar infra red :
a.Berdasarkan panjang gelombang : Gelombang panjang / non penetrating ( panjang gelombang 12.000 – 150 ribu A0, daya penetrasi sampai lapisan superficial epidermis yaitu 0,5 mm) dan gelombang pendek / penetrating (panjang gelombang 7700 – 12.000 A0, daya penetrasi lebih dalam yaitu sampai jaringan subkutan pada pembuluh darah kapiler, pembuluh limfe, ujung-ujung saraf dan jaringan lain dibawah kulit.
b.Berdasarkan type : Type A (panjang gelombang 780 – 1500 mm, penetrasi dalam), Type B (panjang gelombang 1500 – 3000 mm, penetrasi dangkal), Type C (panjang gelombang 3000 – kurang lebih 10.ribu mm, penetrasi dangkal).
Indikasi dan Kontraindikasi :
Indikasi : kondisi peradangan setelah subakut (seperti kontusio, muscle strain – sprain, trauma sinovitis), arthritis (seperti RA, OA, myalgia, lumbago, neuralgia, neuritis), gangguan sirkulasi darah (tromboangitis obliterans, tromboplebitis, Raynauld Disease), penyakit kulit (seperti folli kulitis, furuncolosi, wound), serta persiapan massage dan exercise.
Kontraindikasi : daerah dengan insufesiensi pada darah, gangguan sensibilitas pada kulit, adanya kecenderungan terjadinya pendarahan.
Efek Infra Red :
Efek Fisiologis : meningkatkan proses metabolisme, vasodilatasi pembuluh darah, pigmentasi, pengaruh saraf sensorik, pengaruh terhadap jaringan otot, destruksi jaringan, menaikkan temperatur tubuh, mengaktifkan kerja kelenjar keringat.
Efek terapeutik : relief of pain, muscle relaksasi, meningkatkan suplai darah, menghilangkan sisa-sisa hasil metabolisme.
Penatalaksanaan : Alat yang akan digunakan dipanaskan selama 5 menit terlebih dahulu. Kemudian daerah yang akan diobati dibersihkan dengan air sabun dan dikeringkan dengan handuk. Kemudian pilih apakah dengan menggunakan sinar Infra red luminous (jarak 35-45 cm,) atau dengan IR non-luminous (jarak 45-60 cm). Waktu yang digunakan 10 - 30 menit, tetapi tetap disesuaikan dengan jenis penyakitnya.


3.Parafin bath atau wax bath atau rendaman paraffin.
Parafin biasa ditambah parafin oil kemudian dipanaskan sampai cair atau meleleh kurang lebih 550 C. Pengobatan ini terdiri dari beberapa cara antara lain : rendaman anggota yang diobati kedalam paraffin yang telah meleleh, menggunakan kuas atau sikat yang dicelupkan pada paraffin yang meleleh kemudian dioleskan pada anggota yang diobati, paraffin pack. Area yang diobati akan menjadi kemerah-merahan (erytema), lemas (supel), dan berkeringat. Hal ini memungkinkan untuk diberikan massage, stretching dan terapi manipulasi yang lunak. Toleransi pasien berkisar antara 47,8 0 C – 54 0 C, sehingga sebelum digunakan temperatur paraffin diturunkan hingga kurang lebih 47 0 C.
Indikasi dan Kontraindikasi :
Indikasi : paska trauma, bengkak atau kekakuan, pasca fraktur, sprain atau strain, arthritis kronis,.
Kontraindikasi : luka terbuka, gangguan sensibilitas kulit.
4.LASER (Light Amplification by Stimulated Emission and Radiation)
Merupakan teknologi berupa sinar yang dilipatgandakan melalui emisi radiasi dari perangsangan substansi khusus, dimana setiap benda memancarkan emisi pada gelombnag yang berbeda. Untuk tujuan terapik dalam bidang fisioterapi, emisi yang banyak digunakan adalah emisi dari He dan Neon, atau campuran dari keduanya yang mempunyai spectrum 6,328 A0, serta Infra Red Laser dengan panjang gelombang 9040 A0. Klasifikasi LASER menurut FDA (Food And Drug Administration) yaitu :
a.Kelas 1 : LASER tidak merusak.
b.Kelas 2 : Merusak setelah 1000 detik kontak.
c.Kelas 3 : Merusak mata pada radiasi langsung.
d.Kelas 4 : Merusak mata dan kulit baik pada radiasi langsung. maupun langsung.
Klasifikasi LASER yang lain adalah berdasarkan kekuatannya (power)
a.Hot LASER, adalah LASER dengan kekuatan tinggi, satuan powernya dalam Watt, efek utamanya adalah panas.
b.Cold LASER adalah LASER kekuatan rendah, efek utamanya adalah efek non-thermal.
Efek Biologis terhadap jaringan tubuh manusia antara lain :
a.Efek Biostimulasi : apabila stimulus LASER bersifat ringan ditujukan pada suatu sel maka akan mempengaruhi plasma sel yang berarti pula merubah ketegangan membran sel tersebut. Perubahan tegangan sel tadi merupakan suatu frekuensi oscilasi pada membran sel sehingga mempengaruhi pembebasan ion Calsium (Ca+) yang merangsang prostaglandin dan zat-zat algogenic lainnya untuk menghambat proses peradangan, sehinggga dapat berfungsi menormalisir jaringan yang cedera melalui reaksi radang.
b.Laser sebagai katalisator : Stimulasi LASER yang tinggi akan merangsang mitochondria sel, sehingga sintesa ATP dan ADP akan meningkat serta memacu Ferric sulphide system (dalam mitochondria) yang akan diikuti peningkatan aktivitas sel-sel macrophage, sel schwan, fibrocytes lainnya. Dari perubahan aktivitas tersebut secara keseluruhan akan memberikan efek terapeutik yang sesuai dengan tujuan terapi yang dikehendaki.
c.Efek Biostimulasi : LASER mampu membebaskan enzim-enzim endorphins dan aktifnya kembali sel-sel macrophage serta mampu mengurangi pengeluaran nociceptor sebagai kelanjutan dari perbaikan system microvaskuler. Tujuan LASER ini antara lain : vasodilatasi khususnya pada level microvaskuler, peningkatan aktivitas enzim akibat super dilatasi local pada kapiler dan membuat normalisasi keseimbangan intra dan ekstra seluler, stimulasi mekanisme pertahanan yang akan menyebabkan peningkatan aktivitas anti bacterial (stimulasi macrophage), stimulasi fibroblast untuk penyembuhan proses peradangan pada jaringan lunak akibat trauma, stimulasi suppressor T-Cell pada saat produksi antibody yang tidak seimbang dapat menormalisir komplek imun, peningkatan energi sel intrinsic bertujuan untuk menjaga sel dari keadaan patologis yang mengakibatkan menajdi nekrotik, pelepasan semua aktivitas perusakan menjadikan keadaan symptom bertambah buruk.
Penatalaksanaan fisioterapi :
Pada area yang akan diobati dibersihkan dahulu dengan alkhohol, kemudian area tersebut diukur misal area tersebut berukur 4 cm2 maka area tersebut dibagi menjadi 4 section yang masing-masing mempunyai luas 1 cm2 dan penempatan atau aplikasi probe harus tegak lurus dengan area yang diobati sehingga memberikan nilai absorbsi yang besar. Setelah parameter atau pengukuran atau aplikasi ditentukan berdasarkan pembagian section tadi, maka probe dapat ditempatkan sedikit kontak dengan kulit atau diberikan jarak dengan kulit sekitar 15 mm diatas permukaan kulit, namun probe tetap tegak lurus dengan area yang diobati.
Indikasi dan Kontraindikasi :
Indikasi : Kerusakan Kulit (dermatological disorder), penyakit atau kondisi reumatoid, terutama rheumatoid pada jaringan lunak, gangguan atau kelainan post traumatic, gangguan sirkulasi, kelainan-kelainan yang merupakan indikasi terapi melalui trigger point.
Kontraindikasi : penyinaran langsung pada mata, sekurang-kurangnya 4 – 6 bulan setelah pemberian radioterapi, kelenjar endokrin, epilepsy, demam, tumor, dan kehamilan.



DAFTAR PUSTAKA

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/raynaudsdisease.html
http://organisasi.org/pembuluh_darah_arteri_nadi_vena_balik_dan_kapiler_ilmu_biologi
Raynaud AGM. De l'asphyxie locale et de la gangrène symétrique des extrémités. Academic thesis, Paris, Rignoux, 1862.
http://www.raynauds.demon.co.uk/raynauds.html
http://www.bbc.co.uk/health/conditions/raynauds1.shtml
http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=3199&coid=2&caid=42
http://en.wikipedia.org/wiki/Raynaud's_disease
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembuluh_darah
http://www.kompas.com/
http://organisasi.org/pembuluh_darah_arteri_nadi_vena_balik_dan_kapiler_ilmu_biologi
Buku Pegangan Kuliah Program D III Fisioterapi, “Sumber Fisis”, Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan, DepKes RI, 1993.
Sjamsuhidayat R, Wim De Jong, “Buku Ajar Ilmu Bedah” , Edisi Revisi, Jakarta: EGC, 1998.
Robbins, Kumar, Cotran, “ Rocket Companion To Phatologic Basis Of Disease”, Buku Saku Dasar Patologis Penyakit, Edisi 5, 1995.

Guyton, Arthur C, Buk Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 7 Bagian I, Jakarta : EGC, 1986.
Amiotrophic Lateral Sclerosis

Sekilas Tentang FT pada ALS


• Penyakit yang tidak diketahui secara pasti penyebabnya

• Terjadi proses degenerasi progressif upper dan Lower motor neurons

• Menjadi berbahaya karena menyerang otot-otot pernafasan

• Proses degenerasi dimulai di tract corticospinal dan menyebar kebawah ke Anterior horn dan akar saraf

• Dimulai sebegai gangguan upper motor neuron lesi dan berakhis dengan lower motor neuron lesi

• Gangguan kadang menyebar pada focal dan asimetris

• Progresif bulbar palsy

• AHC terpengaruh à spinal muscular atrophy

• Saat UMN lesi juga melibatkan otot bulbar palsy à sindrom pseudobulbar palsy

• Menyebabkan spastik dysarthria dan dysphagia

• Gejala UMN à spatik anggota badan (primary lateral sclerosis) à menyebar ke area motorik lainnya.

• Gabungan gejala UMN dan LMN dikenal sebagai ALS.

• Dimulai dengan spastik paralisis di jari-jari dan tangan dan menyebar ke atas langan.

• Pada upper extremity terlihat seperti hemi plegi

• Secara bersamaan anggota tubuh atrophy secara lambat dimana terjadi degenerasi AHC

• Reflex meningkat saat pertama tetapi secara bertahap menurun.

• Perubahan gejala spastic menghilang dan berganti menjadi flaccid.

• Setelah kaki terserangà gejala pertama spastis muncul dan ketika degenerasi menyebar ke anterior horn cell.

• Terjadi perluasan atrophy dan paralisis lumbal

• Reflex dikaki sama seperti ditangan pada awal meningkat

• Ankle clonus dan babinski sign ada tapi akhirnya menghilang

• Motor nuclei medulla dapat terpengaruh.

• Kemungkinan penderita mengalami kesulitan menelan

• Peningkatan saliva

• Dysarthria dapat terjadi à bicara menjadi tidak jelas

• Drop hand

• Drop foot

• Kram otot sering terjadi à keterlibatan LMN

• Terjadi clonus atau extensor spasm à nyeri


Pemeriksaan

• Anamnesis

– Identitas diri pasien

– Keluhan utama

– Hobby dan kebiasaan

– Riwayat penyakit sebelumnya

– Riwayat penyakit penyerta

– Riwayat perjalanan penyakit


• Pemeriksaan Vital Sign

– HR, RR, BP, Temp.



• Inspeksi (Statis dan dinamis)

– Aspek anterior yang perlu diperhatikan :

• Kesimetrisan kepala, badan dan anggota gerak

• Atrophy pada anggota gerak

• Gejala Spastik/flaccid

• Posisi anggota herak terhadap trunk

• Trunk dan posture

• Pergerakan pola nafas dan mobilitas thorax

• Palpasi

– Tonus pada setiap otot

– Suhu

– Kondisi kulit


• Fase spastik

– Ashwort test

– Tes koordinasi

– Respiratory test


• VC

• APE 1 detik

– Thorax mobility

• Fase flaccid

– MMT

– Thorax mobility



Prinsip penanganan

• Disesuaikan dengan fase kelemahan

– Sifat intervensi adalah pemeliharaan kondisi umum

– Perbaikan sistem pernafasan

– Fase spastik

• Koordinasi

• Latihan passive à fleksibility

• Pemeliharaan kebugaran

– Fase flaccid

• Strengthening

• Koordinasi

• Stimulasi electric

• Fungsional

• Stability

– Untuk semua intervensi dosis disesuaikan
Mobilisasi Sendi Bahu

Tujuan mobilisasi sendi untuk mengembalikan fungsi sendi yang normal tanpa nyeri pada waktu melakukan aktivitas gerak sendi. Secara mekanik tujuannya untuk memperbaiki “joint play movement” melalui mekanisme gerak arthrokinematik yang benar.
Secara biomekanik gerakan suatu sendi akan mengikuti pola gerak arthrokinematik dan arteokinematik. Pada sendi bahu yang merupakan sendi yang sangat komplek selalu mengikuti maka mobilisasi sendi juga dipengaruhi oleh struktur sendi yang lain dalam mempertahankan mobilitasnya yang normal.
Sendi yang terlibat pada gerakan bahu tercakup dalam komponen shoulder girdle, sehingga untuk memobilisasi sendi bahu juga melibatkan sendi lain misalnya acromio clavicular, sternoclavicular dan cervico thoracal serta costo scapular. Disisi lain peran otot juga sangat menentukan mobilisasi sendi bahu, misalnya otot deltoideus, rotator cuff dan otot lain di sekitar sendi bahu.
Pada kondisi tertentu nyeri bahu dapat terjadi oleh karena factor muskuler yang secara tidak langsung apabila otot tersebut mengalami patologi akan menekan struktur vaskuler dan persyarafan yang melintasi sendi bahu misalnya pada kondisi scalmi sindrom, pectoralis sindrom yang sering disebut TOC. Sindroma nyeri bahu sangat luas, apabila dikaji secara holistic, sehingga untuk membatasi pengertian mobilisasi disini hanya akan dibahas tentang mobilisasi artikuler yang berkaitan dengan (1) mekanisme joint play yaitu roll-gliding dan traksi serta (2) mobilisasi muskuler pada otot postural yang ikut mempengaruhi mobilitas sendi bahu.
Sebelum melakukan mobilisasi sendi bahu maka harus dipahami tentang pengertian permukaan sendi concave dan convex sebgai dasar artrokinetik. Pada sendi bahu, glenohumeral berpermukaan convex sedang cavitas glenoidalis bersifat concave. Gliding akan berlawanan dengan arah gerak tulang (osteokinetik). Sedang sendi yang berpermukaannya concave maka arah gliding (sliding) searah dengan tulang yang bergerak.

Traksi pada sendi bahu ke arah lateral, ventral cranial atau tegak lurus dengan permukaan sendi pada posisi maximal loose packed position. Pelaksanaan traksi tujuan terapi bias ke segala arah menurut daerah keterbtasan sendi.

TREATMENT RULES:
Sebelum melakukan terapi menggunakan teknik-teknik mobilisasi manual (manual terapi), ada aturan-aturan (treatment rules) yang harus diketahui terlebih dahulu oleh terapis, yaitu:

1.Posisi pasien
Pasien diposisikan enal & nyainan schingga otot-ototnya nicks. Sendi diposisikan pada resting position (MLPP) atau actual resting position. Tulang pembentuk sendi bagian pioksinial difiksasi.

2.Posisi terapis
Terapis harus menggtinakan prinsip-prinsip ergonomis dan berdiri atau memposisikan din sedekat rnungkin dengan pasien. Kedua kaki/tungkai melebar agar stabil. Apabila memungkinkan gunakan pengaruh gravitasi atau berat tubuh untuk mendorong atau menarik.

3.Fiksasi
Untuk memfiksasi bagian tubuh tertentu bisa digunakan tangan terapis atau menggunakan sabuk atau dengan bantuan (difiksasi) orang lain. Fiksasi dilakukan sedekat mungkin (lengan ruang sendi tanpa menimbulkan nyeri).

4.Tangan terapis yang aktif/bergerak
Tangan terapis memegang bagian tubuh sedekat mungkin dengan ruang sendi untuk digerakkan. Untuk menghindari nyeri kadang-kadang perlu merubah pegangan.

5.Arah Gerakan
Arah gerakan translasi selalu tegak lurus atau sejajar dengan bidang terapi. Gerakan tegak lurus terhadap dan ke arah bidang terapi disebut traksi dan traksi ini dilakukan untuk mengurangi nyeri maupun sebagai traksi-mobilisasi untuk memperbaiki mobilitas sendi.
Traksi untuk mengurangi nyeri dilakukan pada posisi MLPP atau apabila tidak memungkinkan maka diposisikan pada aktual resting position. Traksi-mobilisasi dan glide-mobilisasi harus dilakukan tanpa menimbulkan nyeri. Terapi untuk kekakuan sendi selalu diawali dengan traksi-mobilisasi, dan apabila memungkinkan bisa diberi modalitas fisioterapi yang lain untuk mengurangi nyeri misalnya; panas, dingin ataupun stimulasi elektris. Apabila terapi pertama tersebut ada perbaikan maka dilanjutkan dengan pemberian glide-mobilisasi ke arah gerakan yang terbatas.

6.Indikasi Traksi dan Gliding
Traksi:
Grade I:
- Untuk mengurangi nyeri
- Selalu digunakan pada saat melakukan glide-mobilisasi
Grade II:
- Untuk mengurangi nyeri (the slack is not completely taken-up)
- Untuk tes joint play movement (traction-test)
Grade III:
- Untuk menambah mobilitas sendi (traksi-mobilisasi)
- Untuk tes joint play movement (traction-test)

Gliding:
Grade II:
- Untuk tes joint play movement (glide-test)
Grade III:
- Untuk menambah mobilitas sendi (glide-mobilisasi)
- Untuk tes joint play movement (glide-test)

7.Traksi untuk Mengurangi Nyeri
Sendi yang terasa nyeri pertama-tama harus diterapi dengan traksi. Biasanya digunakan traksi intermittent (grade I atati II) dengan interval 10 detik. Traksi dilakukan pelan-pelan, kemudian dengan pelan-pelan pula traksi dilepaskan sehingga sendi kembali ke posisi awal. Setelah sendi istirahat beberapa detik, prosedur di atas diulangi kembali.
Amplitudo, durasi dan frekuensi gerakan sendi yang pasti sangat bervariasi tergantung pada respon pasien terhadap terapi tersebut. Terapis harus pandai-pandai memodifikasi teknik yang digunakan berdasarkan respon subjektif pasien terhadap terapi yang diberikan.

8.Mobilisasi Sendi untuk Menambah Mobilitas (pada kekakuan sendi)
Traksi-mobilisasi grade III efektif untuk memperbaiki mobilitas sendi karena dapat meregang (stretch) jaringan lunak sekitar persendian yang memendek. Traksi-mobilisasi dipertahankan selama 7 detik atau lebih dengan kekuatan maksimal sesuai dengan toleransi pasien. Antara dua traksi yang dilakukan, traksi tidak perlu dilepaskan total ke posisi awal melainkan cukup diturunkan ke grade II dan kemudian lakukan traksi grade III lagi. Prosedur tersebut dilakukan berulang-ulang.
Glide-rnobilization grade III yang dilakukan ke arah gliding yang terbatas juga efektif untuk meregang jaringan yang menghambat gerakan. Dalam melakukan glide-inobilisasi ini selalu disertai dengan traksi grade I yang tujuannya untuk menetralisir gaya kompresi yang ada dalam sendi sehingga mempermudah terjadinya gliding.
Apabila problemnya hanya gerakan gliding terbatas maka traksi maupun gliding yang di lakukan adalah inermittent dan waktunya relatif pendek. Apabila terdapat jaringan lunak memendek maka diperlukan regangan yang dipertahankan dalam waktu satu menit atau lebih.

9.Evaluasi
Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah terapi, bahkan harus selalu dilakukan selama terapi berlangsung. Untuk terapi permulaan biasanya diberikan traksi -mobilisasi sebanyak 10 kali. Apabila tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan maka terapi bisa ditambah dengan glide-mobilisasi. Apabila pasien merasakan nyeri maka harus dilakukan evalusi secara hati-hati sebelum terapi dilanjutkan. Apabila setelah dilakukan mobilisasi berulang-ulang tidak didapatkan perbaikan maka terapi (dengan manual terapi) untuk hal ini dihentikan.

10.Tujuan Mobilisasi Sendi
Tujuan mobilisasi sendi adalah untuk mengembalikan fungsi sendi normal dan tanpa nyeri. Secara mekanis, tujuannya adalah untuk memperbaiki joint play dan dengan demikian memperbaiki roll-gliding yang teijadi selama gerakan aktif. Terapi harus diakhiri apabila sendi sudah mencapai LGS maksimal tanpa nyeri dan pasien dapat melakukan gerak aktjf dengan normal.
Physiotherapy pada Cardiac Heart Failure

Oleh : wishnu subroto, s.st.ft

Sejak tahun 1940-1950-an bed rest yang lama sebagai standart pelayanan medis pada pasien post miocard infark berdampak buruk bukan hanya pada fisik tapi juga psikis (Levine & Lawn.1952) Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilakukan.Rehabilitasi jantung atau yang dikenal dengan cardiac rehabilitation termasuk didalamnya program pencegahan efek sekunder telah menjadi bagian yang sangat penting dalam manajemen pasien post Miocard Infark dan post coronary artery bypass surgery ( Mcburney.2001).Menurut Beazley (1975 ) penatalaksanaan Physioterapy sebagai bagian dari team cardiac rehabilitation pada kondisi Congestuve cardiac failure dan Pulmonary congestion telah lama diterima.

Peran Physiotherapy pada kondisi jantung difokuskan pada aspek pemulihan fisik, khususnya meminimalkan dekondisioning akibat bed rest,peningkatan fungsi cardiovascular dan perbaikan fungsi musculuskeletal.dimulai dengan assesment,breathing exercise, assisted atau aktiv exercise untuk pasien tertentu.mengawasi proses ambulasi atau perpindahan tempat,menaiki tangga dan aktivitas lainnya.memprogramkan home exercise dan modifikasi aktivitas.Selanjutnya Physiotherapist tetap melaporkan kemajuan yang terkait dengan kondisi fisik pasien serta tetap berkonsultasi dengan team

A.Pengertian

Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Ciri-ciri yang penting dari defenisi ini adalah pertama defenisi gagal adalah relatif terhadap kebutuhan metabolic tubuh, kedua penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan. Istilah gagal miokardium ditujukan spesifik pada fungsi miokardium ; gagal miokardium umumnya mengakibatkan gagal jantung, tetapi mekanisme kompensatorik sirkulai dapat menunda atau bahkan mencegah perkembangan menjadi gagal jantung dalam fungsi pompanya

Kegagalan jantung kongestif adalah suatu kegagalan pemompaan (di mana cardiac output tidak mencukupi kebutuhan metabolik tubuh), hal ini mungkin terjadi sebagai akibat akhir dari gangguan jantung, pembuluh darah atau kapasitas oksigen yang terbawa dalam darah yang mengakibatkan jantung tidak dapat mencukupi kebutuhan oksigen pada erbagai organ (Ni Luh Gede Yasmin, 1993)

Istilah gagal sirkulasi lebih bersifat umum dari pada gagal jantung. Gagal sirkulasi menunjukkan ketidakmampuan dari sistem kardiovaskuler untuk melakukan perfusi jaringan dengan memadai. Defenisi ini mencakup segala kelainan dari sirkulasi yang mengakibatkan perfusi jaringan yang tidak memadai, termasuk perubahan dalam volume darah, tonus vaskuler dan jantung. Gagal jantung kongetif adalah keadaan dimana terjadi bendungan sirkulasi akibat gagal jantung dan mekanisme kompenstoriknya. Gagal jantung kongestif perlu dibedakan dengan istilah yang lebih umum yaitu. Gagal sirkulasi, yang hanya berarti kelebihan beban sirkulasi akibat bertambahnya volume darah pada gagal jantung atau sebab-sebab diluar jantung, seperti transfusi yang berlebihan atau anuria

B.Etiologi dan Patofisiologi

Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis penyakit jantung kongestif maupun didapat. Mekanisme fisiologis yang menyebabkan gagal jantung mencakup keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal, beban akhir atau menurunkan kontraktilitas miokardium. Keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal meliputi : regurgitasi aorta dan cacat septum ventrikel. Dan beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta dan hipertensi sistemik. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada imfark miokardium dan kardiomiopati.

Kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi curah sekuncup dan meningkatkan volume residu ventrikel.

Tekanan arteri paru-paru dapat meningkat sebagai respon terhadap peningkatan kronis tekanan vena paru. Hipertensi pulmonary meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serentetan kejadian seperti yang terjadi pada jantung kiri, juga akan terjadi pada jantung kanan, dimana akhirnya akan terjdi kongesti sistemik dan edema.

Perkembangan dari kongesti sistemik atau paru-paru dan edema dapat dieksaserbasi oleh regurgitasi fungsional dan katub-katub trikuspidalis atau mitralis bergantian. Regurgitasi fungsional dapat disebabkan oleh dilatasi dari annulus katub atrioventrikularis atau perubahan-perubahan pada orientasi otot papilaris dan kordatendinae yang terjadi sekunder akibat dilatasi ruang.

Sebagai respon terhadap gagal jantung ada tiga mekanisme primer yang dapat dilihat; meningkatnya aktifitas adrenergik simpatik, meningkatnya beban awal akibat aktivasi rennin-angiotensin-aldosteron dan hipertrofi ventrikel. Ketiga respon ini mencerminkan usaha untuk mempertahankan curah jantung. Meknisme-meknisme ini mungkin memadai untuk mempertahankan curah jantung pada tingkat normal atau hampir normal pada gagal jantung dini, pada keadaan istirahat. Tetapi kelainan pada kerja ventrikel dan menurunnya curah jantung biasanya tampak pada keadaan beraktivitas. Dengn berlanjutnya gagal jantung maka kompensasi akan menjadi semakin luring efektif

Faktor-faktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanan sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia, infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru. Penanganan yang efektif terhadap gagal jantung membutuhkan pengenalan dan penanganan tidak saja terhadap mekanisme fisiologis dan penyakit yang mendasarinya, tetapi juga terhadap faktor-faktor yang memicu terjadinya gagal jantung

C. Gejala

Penderita gagal jantung yang tidak terkompensasi akan merasakan lelah dan lemah jika melakukan aktivitas fisik karena otot-ototnya tidak mendapatkan jumlah darah yang cukup.
Pembengkakan juga menyebabkan berbagai gejala. Selain dipengaruhi oleh gaya gravitasi, lokasi dan efek pembengkakan juga dipengaruhi oleh sisi jantung yang mengalami gangguan. Gagal jantung kanan cenderung mengakibatkan pengumpulan darah yang mengalir ke bagian kanan jantung. Hal ini menyebabkan pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati dan perut. Gagal jantung kiri menyebabkan pengumpulan cairan di dalam paru-paru (edema pulmoner), yang menyebabkan sesak nafas.

Pada awalnya sesak nafas hanya terjadi pada saat melakukan aktivitas; tetapi sejalan dengan memburuknya penyakit, sesak nafas juga akan timbul pada saat penderita tidak melakukan aktivitasng hebat. Kadang sesak nafas terjadi pada malam hari ketika penderita sedang berbaring, karena cairan bergerak ke dalam paru-paru. Penderita sering terbangun dan bangkit untuk menarik nafas atau mengeluarkan bunyi mengi. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya penderita gagal jantung tidur dengan posisi setengah duduk.

D.Diagnosa

Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan fisik, yang biasanya menunjukkan:
- denyut nadi yang lemah dan cepat
- tekanan darah menurun
- bunyi jantung abnormal
- pembesaran jantung
- pembengkakan vena leher
- cairan di dalam paru-paru
- pembesaran hati
- penambahan berat badan yang cepat
- pembengkakan perut atau tungkai

Foto rontgen dada bisa menunjukkan adanya pembesaran jantung dan pengumpulan cairan di dalam paru-paru.

Kinerja jantung seringkali dinilai melalui pemeriksaan ekokardiografi (menggunakan gelombang suara untuk menggambarkan jantung) dan elektrokardiografi (menilai aktivitas listrik dari jantung)

E. Pengobatan

Tujuan pengobatan adalah :
- Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung.
- Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraktilitas miokardium dengan preparat farmakologi, dan
- Membuang penumpukan air tubuh yang berlebihan dengan cara memberikan terapi antidiuretik, diet dan istirahat.

Terapi Farmakologis :
Glikosida jantung.
Digitalis , meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan memperlambat frekuensi jantung.Efek yang dihasilkan : peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume darah dan peningkatan diuresisidan mengurangi edema
Terapi diuretik.
Diberikan untuk memacu eksresi natrium dan air mlalui ginjal.Penggunaan hrs hati – hati karena efek samping hiponatremia dan hipokalemia
Terapi vasodilator.
Obat-obat fasoaktif digunakan untuk mengurangi impadansi tekanan terhadap penyemburan darah oleh ventrikel. Obat ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri dapat diturunkan
Dukungan diet:
Pembatasan Natrium untuk mencegah, mengontrol, atau menghilangkan edema.

Prinsip Penanganan Fisioterapi

Prinsip terapi pada penderita cardiac failure adalah : untuk menghilangkan atau mengurangi penyebap failure dengan :

Mengurangi kebutuhan jantung selama failure (serangan )

Memperbaiki fungsi myocardium.

Mengurangi cairan extraceluler dan volume plasma.

Menghilangkan penyebap mungkin dapat dilakukan dengan cara operasi atau hypertensi dengan obat hipertensi, infeksi paru dengan antibiotik dan fisioterapi dan lain – lain.

Mengurangi kebutuhan Myocardium : memerlukan istirahat dengan kursi yang memakai lengan,cardiac bed dengan kedua tungkai bebas ( tergantung ) atau halflying serta mengurangi ketakutan atau kecemasan dengan banyak tidur .istirahat biasanya diberikan dalam satu periode kira – kira 3 minggu atau sampai udem berkurang..

Relaksasi diajarkan pada pasien yang sangat tegang untuk memperbaiki kemampuannya istirahat.

Diet juga secara hati – hati diatur antara lain : porsi dan cairan pertama kali harus dikurangi Memperbaiki fungsi myocardium : pertama kali dengan memberikan oksigen,agar jaringan otot tidak degenerasi karena kurangnya oksigen.

Latihan akhir yang diberikan adalah aktifitas seperti : keluar bed,berjalan yang mulai jarak pendek dengan langkah lambat lalu ditingkatkan.derajat laytihan klasifikasi jantung mungkin dapat digunakan setelah pulang untuk mencoba meninggkatkan toleransi miocardium dan mencegah pasien menjadi cardiac infalid ( cacat jantung ).

* Chest Infeksi dan collaps paru dapat dicegah dengan memberikan breathing exercise setiap saat dengan pasien dengan pola dan irama nafas normal.

* Batuk efektif harus diberikan yang bersamaan dengan pemberian perubahan posisi dari samping kesamping.Jika otot abdomen lemah, maka batuk yang tidak efektif dibantu dari luar oleh terapis dengan bantuan dorongan tangan.

* Postural Drainage; tidak boleh digunakan bila ada orthopnoe,dyspnoe saat istirahat atau syanosis.Hal ini mungkin dapat diberikan dengan cara modifikasi untuk membantu drainage ( mengalirkan ) sputum pada segmen basal jika ini menyebabkan penyempitan atau sumbatan ,tapi hal ini harus ada persetujuan dari dokter yang merawatnya.,tidak boleh oleh Physiotherapist
* Leg exersise ; diajarkan segera setelah dokter mengijinkannya untuk membantu mencegah Deep Vena thrombosis terjadi